BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Di seluruh dunia saat ini jumlah
lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa (satu dari 10 orang berusia
lebih dari 60 tahun) dan pada tahun 2025 jumlah lanjut usia diperkirakan akan
mencapai 1,2 milyar. Secara demografis, berdasarkan sensus penduduk pada tahun
2000 jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas sejumlah 17,8 juta jiwa (8%) dari
jumlah penduduk, pada tahun 2005 meningkat menjadi 20 juta jiwa (8,5%) dari
jumlah penduduk dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 24 juta jiwa (9,8%) dari
jumlah penduduk. Jumlah penduduk pada tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi
28,9 juta jiwa (11,4%) dari jumlah penduduk. Hal ini membuktikan bahwa jumlah
lanjut usia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya (Nugroho, 2014 : 2).
Peningkatan populasi
lansia ini dapat menyebabkan permasalahan. Permasalahan yang berkaitan dengan
perkembangan kehidupan lansia salah satunya adalah proses menua, baik secara
fisik, mental maupun psikososial. Semakin lanjut usia seseorang, maka kemampuan
fisiknya akan semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan kemunduran pada
peran-peran sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya gangguan dalam hal
mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang
memerlukan bantuan orang lain.
Mengantisipasi kondisi
ini pengkajian masalah-masalah usia lanjut perlu ditingkatkan, termasuk aspek
keperawatannya agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan serta untuk menjamin
tercapainya usia lanjut yang bahagia, berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan
masyarakat di Indonesia (Tamher &
Noorkasiani, 2009 : 148).
Salah satu gangguan
kesehatan yang dapat muncul pada lansia adalah gangguan mental. Gangguan mental
yang sering muncul pada masa ini adalah depresi dan gangguan fungsi kognitif.
Sejumlah faktor resiko psikososial juga mengakibatkan lansia pada gangguan
fungsi kognitif. Faktor resiko tersebut adalah hilangnya peranan sosial,
hilangnya ekonomi, kematian teman atau sanak saudaranya, penurunan kesehatan,
peningkatan isolasi karena hilangnya interaksi sosial dan penurunan fungsi
kognitif. Lansia yang mengalami kesulitan dalam mengingat atau kurangnya
pengetahuan penting dilakukan pengkajian fungsi kognitif dengan tujuan dapat
memberikan informasi tentang fungsi kognitif lansia. Pengkajian fungsi kognitif
pada lansia berfungsi untuk membantu mengidentifikasi lansia yang berisiko
mengalami penurunan fungsi kognitif (Gallo, Reichel & Andersen, 2000 :
109).
Dampak dari menurunnya
fungsi kognitif pada lansia akan menyebabkan bergesernya peran lansia dalam
interaksi sosial di masyarakat maupun dalam keluarga. Hal ini didukung oleh
sikap lansia yang cenderung egois dan enggan mendengarkan pendapat orang lain,
sehingga mengakibatkan lansia merasa terasing secara sosial yang pada akhirnya merasa
terisolir dan merasa tidak berguna karena tidak ada penyaluran emosional
melalui bersosialisasi. Keadaan ini menyebabkan interaksi sosial menurun baik
secara kualitas maupun kuantitas, karena peran lansia digantikan oleh generasi
muda, dimana keadaan ini terjadi sepanjang hidup dan tidak dapat dihindari (Stanley & Beare, 2007 : 20).
Berdasarkan hasil
wawancara peneliti dengan 5 lansia di posyandu menunjukkan bahwa berdasarkan
pengkajian fungsi kognitif dengan menggunakan
Mini Mental Stase
Examination (MMSE),
fungsi kognitif 4 dari 5 lansia dalam kategori buruk dengan skor kurang dari
21. Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan peneliti di posyandu menunjukkan
bahwa di posyandu terdapat berbagai tingkah laku lansia yang berbeda-beda.
Hal ini dapat dilihat
dengan adanya lansia yang senang berbicara dan bersendau gurau dengan temannya
tetapi ada juga lansia yang memilih untuk diam dan langsung pulang. Perilaku
menarik diri ini dapat menyebabkan halusinasi karena terjadi persepsi dalam
kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera yang dapat
mempengaruhi kehidupannya bahkan jika berkelanjutan akan menyebabkan resiko
bunuh diri.
Dari uraian singkat di
atas, adanya dugaan bahwa fungsi kognitif berhubungan dengan interaksi sosial
pada lansia di Kecamatan Libureng wilayah kerja Puskesmas Libureng masih diperlukan penjelasan. Dugaan tersebut
membuat peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan antara fungsi
kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di Kecamatan Libureng
wilayah kerja Puskesmas Libureng.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Adakah
hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia
di wilayah kerja Puskesmas Libureng?”
C. Tujuan
Penelitian
Tujuan Umum Mengetahui
hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia
di Kecamatan Libureng wilayah kerja puskesmas Libureng.
D. Manfaat
Penelitian Manfaat penelitian ini terdiri dari :
1. Manfaat
praktis
a. Bagi
kader posyandu dapat memberikan informasi tentang fungsi kognitif dan interaksi
sosial sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada lansia.
b. Bagi
instansi pendidikan dapat sebagai bahan tambahan referensi dalam pembelajaran
dan sebagai acuan penelitian lanjutan tentang fungsi kognitif dan interaksi
sosial pada lansia.
2. Manfaat
teoritis
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang fungsi
kognitif dan kemampuan interaksi sosial pada lansia.
E.
Hipotesis
H0 : Tidak
ada hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi
sosial pada lansia
di wilayah kerja
Puskesmas Libureng.
H1 : Ada
hubungan antara
fungsi kognitif dengan
kemampuan interaksi sosial
pada lansia di
wilayah kerja Puskesmas Libureng.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Teori Penelitian
1. Lanjut
usia
a. Defenisi
Lanjut Usia
Menua atau
lanjut usia di definisikan sebagai proses yang
mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang “frail”
(lemah,rentan) dengan berkurangnya sebagian besar cadangan
sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial. Menua juga didefinisikan sebagai penurunan seiring
waktu yang terjadi pada sebagian besar makhluk hidup, yang berupa kelemahan, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan perubahan
lingkungan, hilangnya
mobilitas dan ketangkasan, serta perubahan fisiologis yang terkait usia. Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh gerontologis
ketika
membicarakan proses
menua:
1) Aging (bertambahnya umur)
menunjukan efek waktu, suatu proses perubahan,biasanya bertahap dan
spontan.
2) Senescence (menjadi
tua) hilangnya kemampuan
sel untuk membelah dan berkembang (dan seiring waktu akan menyebabkan
kematian
3) Homeostenosis penyempitan/berkurangnya
cadangan
homeostatis yang terjadi selama penuaan pada setiap sistem organ (Setiati dkk,
2009 : 87).
b. Teori-teori proses menua
Menurut padila (2013 : 7-10) banyak definisi dan teori yang
menjelaskan tentang proses menua yang tidak seragam. Proses menua bersifat
individual: dimana proeses menua pada setiap orang terjadi dengan usia yang
berbeda, dan tidak ada satu faktor pun yang ditemukan dapat mencegah proses
menua. Adakalanya seseorang belum tergolong tua (masih muda) tetapi telah
menunjukkan kekurangan yang mencolok. Adapula orang yang tergolong lanjut usia
penampilannya masih sehat,bugar, badan tegap, akan tetapi meskipun demikian,
harus di akui bahwa ada berbagai penyakit yang sering dialami oleh lanjut usia.
Misalnya Hipertensi,diabetes militus, rematik, asam urat, dimensia senilis,
sakit ginjal,Dll.
Teori-teori tentang penuaan sudah banyak yang dikemukakan,
namun tidak semuanya bisa diterima. Teori-teori itu dapat digolongkan dalam dua
kelompok, yaitu yang termasuk kelompok teori biologis dan teori spikologis.
1)
Teori Biologis :
Teori
yang merupakan teori biologis adalah sebagai berikut:
a)
Teori jam genik
Secara
genetik udah terprogram bahwa material di dalam inti sel dikatakan bagaikan
mimiliki jam genetis terkait dengan frekuensi mitos. Teori ini didasarkan pada
kenyataan bahwa spesies-spesies tertentu memiliki harapan hidup (life span) yang tertentu pula. Manusia
yang memiliki rentang kehidupan maksimal sekitar 110 tahun, sel-selnya
diperkirakan hanya mampu membelah sekitar 50 kali, sesudah itu akan mengalami
deteriorasi.
b)
Teori psikososial
Teori yang merupakan teori Psikososial
adalah sebagai berikut :
- teori integritas ego
Teori perkembangan ini
mengidentifikasi tugas-tugas yang
harus
dicapai dalam tiap tahap perkembagan. Juga perkembangan terakhir merefleksikan
kehidupan seseorang dan pencapaianya. Hasil akhir dari penyelesaian konflik
antara integritas ego dan keputusan adalah kebebasan.
-
Teori stabilitas personal
Kepribadian seseorang terbentuk pada masa kanak-kanak dan
tetap bertahan secara stabil. Perubahan yang radikal pada usia tua bila jadi
mengindikasikan penyakit otak.
c)
Teori sosiokultural
Teori
yang merupakan teori sosiokultural adalah sebagai berikut :
-
Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori
ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang berangsur-angsur mulai
melepaskan diri dari kehidupa sosialnya, atau menarik diri dari pergaulan
sekitarnya. Hal ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun,
sehingga sering terjadi kehilangan ganda meliputi kehilangan peran, hambatan
kontak sosial dan kurangnya komitmen.
-
Teori aktifitas
Teori
ini menyatakan bahwa penuaan yang sukses tergantung dari bagaimana seorang usia
lanjut merasakan kepuasan dalam beraktifitas dan mempertahankan aktifitas
tersebut selama mungkin. Adapun kualitas aktifitas tersebut lebih penting
dibandingkan kualitas aktifitas yang di lakukan.
d)
Teori konsekuensi Fungsional
Teori
yang merupakan teori fungsional adalah sebagai berikut :
-
Teori ini mengatakan tentang kosikuensi
fungsional usia lanjut yang berhubungan dengan perubahan-perubahan karena usia
dan faktor resiko tambahan
-
Tanpa intervensi maka beberapa
konsikuensi fungsional akan negatif, dengan intervensi menjadi positif.
c.
Batasan-Batasan Lansia
Usia
yang dijadikan patokan untuk
lanjut usia berbeda-
beda, umumnya berkisar antara
60-65 tahun. Beberapa pendapat
para ahli tentang batasan usia
adalah
sebagai berikut:
1) Menurut Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), ada empat
tahapan yaitu:
a) Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
b) Lanjut usia (elderly)
usia 60-74 tahun
c) Lanjut usia tua (old) usia 75-90
tahun
d) Usia sangat tua (very old) usia > 90
tahun
d. Perubahan
pada lanjut usia
Menua atau menjadi tua adalah
suatu keadaan yang terjadi dalam kedalam kehidupan manusia. Proses menua
merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya di mulai dari suatu waktu
tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan
proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan,
yaitu anak, dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun
psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran
fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai
ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat,
dan figur tubuh yang tidak proporional. (Nugroho, 2014 : 11)
Memasuki usia tua banyak
mengalami kemunduran misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit
menjadi keriput karena berkurangnya bantalan lemak, rambut memutih, pendengaran
berkurang, gigi mulai ompong, aktivitas menjadi lambat, nafsu makan berkurang
dan kondisi tubuh yang lain juga mengalami kemunduran. (Padilla, 2013 : 6)
Perubahan mental, dalam bidang
mental atau psikis pada lanjut usia, dapat berupa sikap yang semakin
egosentrik, mudah curiga, bertambah pelit atau tamak jika memiliki sesuatu.
Yang perlu dimengerti adalah sikap umum yang ditemukan pada hampir setiap
lanjut usia, yaitu keinginan berumur panjang dengan sedapat mungkin tenaganya
dihemat, mengharapkan tetap diberikan peranan dalam masyarakat, ingin tetap
berwibawa dengan mempertahankan hak dan hartanya, ingin meninggal secara
terhormat (Nugroho, 2014 : 34-35).
Perubahan psikososial yaitu
nilai seseorang sering diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya dengan peranan
dalam pekerjaan. Ketika seseorang
mengalami pensiun (purnatugas), maka yang dirasakan adalah pendapatan berkurang
(kehilangan finansial); kehilangan status (dulu mempuyai jabatan/ posisi yang
cukup tinggi, lengkap dengan semua
fasilitas); kehilangan relasi;
kehilangan kegiatan, akibatya timbul kesepian akibat pengasingan dari
lingkungan sosial serta perubahan
cara hidup (Nugroho,
2014 : 35-36).
Perubahan spiritual pada lansia
ditandai dengan agama/kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan, semakin
matur dalam kehidupan keagamaannya, berfikir dan bertindak dengan cara memberi
contoh cara mencintai dan keadilan ( Nugroho, 2014 : 36).
e. Perubahan fisik dan fungsi
Menurut
Nugroho (2014 : 27-24)
1) Sel
a) Jumlah
sel menurun/ lebih sedikit
b) Ukuran
sel lebih besar
c) Jumlah
cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang
d) Proporsi
protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati menurun
e) Jumlah
sel diotak menurun
f) Mekanisme
perbaikan sel terganggu
g) Otak
menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%
h) Lekukan
otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar
2) Sistem persarafan
a) Menurun
hubungan persarafan
b) Berat
otak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setiap harinya)
c) Respon
dan waktu untuk bereaksi lambat, khususnya terhadap stres
d) Saraf
panca indera mengecil
e) Penglihatan
berkurang, pendengaran menghilang, saraf penciuman dan perasa mengecil, lebih
sensitif terhadap perubahan suhu, dan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
f) Kurang
sensitif terhadap sentuhan
g) Difisit
memori
3) Sistem pendengaran
a) Gangguan
pendengaran. Hilangnya daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap
bunyi suara atau nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti
kata-kata, 50% terjadi pada usia di atas umur 65 tahun.
b) Membran
timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis
c) Terjadi
penggumpalan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya keratin
d) Fungsi
pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan/stres
e) Tinitus
(bising yang bersifat mendengung, bisa bertanda tinggi atau rendah, bisa
terus-menerus atau intermiten)
f) Vertigo
(perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang atau berputar)
4) Sistem penglihatan
a) Sfingter
pupil tibul sklerosis dan respon terhadap sinar menghilang
b) Kornea
lebih berbentuk sferis (bola)
c) Lensa
lebih suram (kekeruhan pada lensa), menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan
penglihatan
d) Meningkatnya
ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah
menglihat dalam gelap
e) Menurunnya/hilangnya
daya akomodasi, dengan menifestasi presbiopia, seseorang sulit melihat dekat
yang dipengaruhi berkurangnya elastisitas lensa.
f) Lapang
pandang menurun: luas padangan berkurang
g) Daya
membedakan warna menurun, terutama warna biru atau hijau pada skala
5) Sistem kardiovaskular
a) Katup
kantong menebal dan menjadi kaku
b) Elastisitas
dinding aorta menurun
c) Kemampuan
jantung memompa darah menurun 1% setiap
tahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan kontraksi dan volume menurun (frekuensi
denyut jantung maksima = 200 – umur)
d) Curah
jantung menurun (isi semenit jantung menurun)
e) Kehilangan
elastisitas pembuluh darah, efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
berkurang, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa
menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing
mendadak)
f) Kinerja
jantung lebih rentan terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan
g) Tekanan
darah meninggi akibat resistensi pembuluh darah perifer meningkat. Sistole
normal
mmHg, diastole
mmHg
6) Sistem pengaturan suhu tubuh
Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai
suatu termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu. Kemunduran terjadi
sebagai faktor yang mempengaruhinya. Yang sering ditemui antara lain:
a) Temperatur
suhu menurun (hipotermia) secara fisiologis
ini akibat
metabolisme yang menurun
b) Pada
kondisi ini, lanjut usia akan merasa kedinginan dan dapat pula menggigil,
pucat, dan gelisah.
c) Keterbatasan
refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga
terjadi penurunan aktivitas otot.
7) Sistem pernafasan
a) Otot
pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan, dan menjadi
kaku.
b) Aktifitas
silia menurun
c) Paru
kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat,
kapasitas pernapasan maksimum menurun dengan kedalaman bernafas menurun
d) Ukuran
alveoli melebar (membesar secara progresif) dan jumlah berkurang
e) Berkurangnya
elastisitas bronkus
f) Oksigen
pada arteri tidak berganti. Pertukaran gas terganggu
g) Refleks
dan kemampuan untuk batuk berkurang
h) Sensivitas
terhadap hipoksia dan hiperkarbia menurun
i) Sering
terjadi emfisema sinilis
j) Kemampuan
pegas dinding dada dan kekuatan otot pernafasan menurun seiring pertambahan
usia
8) Sistem pencernaan
a) Kehilangan
gigi, penyebab utama periodontal disease
yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun. Penyebab lain meliputi kesehatan gigi
dan gizi yang buruk.
b) Indra
pengecap menurun, adanya iritasi selaput lendir yang kronis, atrofi indra
pengecap
, hilangnya sensivitas saraf pengecap di lidah, terutama
rasa manis dan asin, hilangnya sensivitas sarap pengecap terhadap rasa asin,
asam, dan pahit.
c) Esofagus
melebar
d) Rasa
lapar menurun (senivitas lapar menurun), asam lambung menurun, motilitas dan
waktu pengosongan lambung menurun
e) Fungsi
absorpsi melemah (daya absorpsi terganggu, terutama karbohidrat)
f) Hati
semakin mengecil dan tempat penyimpanan menurun, aliran darah berkurang.
9) Sistem reproduksi
wanita
a) Vagina
mengalami kontraktur dan mengecil
b) Ovari
menciut, uterus mengalami atrofi
c) Atrofi
payudara
d) Atrofi
vulva
e) Selaput
lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi berkurang, sifatnya
menjadi alkali dan terjadi perubahan warna
Pria
a) Testis
masih dapat memproduksi spermatozoa, mekipun ada penurunan secara berangsur-angsur.
b) Dorongan
seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun, asal kondisi kesehatannya baik,
yaitu : kehidupan seksual dapat di upayakan sampai lanjut usia, hubungan
seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual, tidak perlu
cemas karna prosesnya alamiah, sebanyak ±75% pria usia di atas 65 tahun mengalami
pembesaran prostat.
10) Sistem urinaria
Ginjal merupakan alat untuk
mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ke ginjal,
di saring oleh satuan (unit) terkecil dari ginjalyang di sebut nefron (tepatnya
di gromerulus). Mengecilnya nefron akibat atrofi, aliran darah ke ginjal
menurun sampai ±50% sehingga fungsi tubulus berkurang. Akibatnya kemampuan
mengonsentrasi urine menurun, berat jenis urine menurun, proteinuria (biasanya
+1), BUN (blood urea nitrogen)
meningkat sampai 21mg%, nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
Keseimbangan elektrolit dan asam lebih
mudah terganggu bila dibandingkan dengan usia muda, renal plasma flow (RPF) dan glomerular
filtration rate (GFR) atau klirens kreatini menurun secara difiltrasi sejak
usia 30 tahun, jumlah darah yang difiltrasi oleh ginjal berkurang.
Vesika urinaria: otot menjadi lemah,
kapasitasnya menurun sampai 200ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni
meningkat. Pada pria lanjut usia, vesikaurinaria silit di kosongkan sehingga
mengakibatkan retensi urine meningkat.
Pembesaran prostat : kurang dari 75%
dialami oleh pria usia di atas 65 tahun.
Atrovi vulva: vagina seseorang yang
semakin menua, kebutuhan hubungan seksualnya masih ada. Tidak ada batasan umur
tertentu kapan fungsi seksual seseorang berhenti. Frekuensi hubungan seksual
cenrung menurun secara bertahap setiap tahun, tetapi kapasitas untuk melakukan
dan menikmatinya berjalan terus menerus sampai tua.
11) Sistem endokrin
Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu
dalam tubuh manusia yang memproduksi hormon. Hormon pertumbuhan berperan sangat
penting dalam pertumbuhan, pematangan, pemeliharaan, dan metabolisme organ
tubun. Yang termasuk hormon kelamin adalah :
a) Esterogen,
progesteron, dan testosteron yang memelihara alat reproduksi dan gairah seks.
Hormon ini menglami penurunan.
b) Kelenjar
pankareas (yang memproduksi insulin dan sangat penting dalam pengaturan gula
darah).
c) Kelenjar
adrenal/anak ginjal yang memproduksi adrenalin. kelenjar yang berperan dalam
hormon pria/wanita. Salah satunya kelenjar endokrin dalam tubuh yang mengatur
agar arus darah dalam tubuh ke organ tertentu berjalan dengan baik, dengan
jalan mengatur vasokontriksi pembuluh darah. Kegiatan kelenjar anak ginjal ini
berkurang pada usia lanjut
d) Produksi
hampir semua hormon menurun
e) Fungsi
paratiroid dan sekresinya tidak berubah
f) Hipofisis:
pertumbuhan hormon ada, tetapi lebih muda dan hanya di dalam pembuluh darah
g) Aktifitas
tiroid dan daya pertukaran zat menurun
h) Sekresi
hormon kelamin menurun
i)
Timbul bercak pigmentasi akibat proses
melanogenesis yang tidak merata pada permukaan kulit sehingga tampak
bintik-bintik atau noda coklat
12) Sistem Muskuluskeletal
a)
Tulang semakin rapuh
b)
Pergerakan pinggul, lutut dan jari-jari
terbatas
c)
Persendian membesar dan menjadi kaku
d) Gangguan
gaya berjalan
f. Masalah masalah pada lanjut usia
Mudah jatuh merupakan masalah yang
sering terjadi pada lansia. Penyebabnya multi-faktor. Banyak yang berperan di
dalamnya, baik faktor intrinsik misalnya gangguan gaya berjalan, kelemahan otot
ektremitas bawah, kekakuan sendi dan pusing. Untuk faktor ekstrinsik, misalnya
lantai yang licin, tersandung benda, penglihatan yang kurang karena cahaya yang
kurang terang dan sebagainya (Nugroho, 2008).
Gangguan pendengaran adalah salah satu
masalah kesehatan yang umum dijumpai pada lansia Hilangnya pendengaran dapat menyebabkan
terjadinya isolasi sosial, depresi dan menarik diri dari aktivitas hidup. Gangguan
pendengaran individu meliputi tuli, kehilangan pendengaran berat ataupun
kehilangan pendengaran parsial yang semuanya dapat menyebabkan sulitnya
berkomunikasi, walaupun beberapa fungsi pendengaran masih baik. Beberapa orang
dengan gangguan pendengaran dapat keterbatasan mengalami dalam kebebasannya dan
menderita penurunan kualitas hidup (Notoatmodjo,2010
: 48).
Sering ngompol yang tanpa disadari
(inkontinensia urin) merupakan salah satu keluhan utama pada orang lanjut usia.
Inkontinensia urin dapat terjadi karena adanya faktor pencetus yang mengiringi
perubahan pada organ kemih akibat proses penuaan (Nugroho, 2008).
2. Fungsi
kognitif pada lansia
a. Fungsi
kognitif
Menurut Suharnan
(2005 : 23),
psikologi kognitif mempelajari tentang proses-proses mental/aktifitas
pikiran
manusia yang menekankan pada peran-peran persepsi,
pengetahuan,
ingatan dan proses-proses
berpikir bagi perilaku manusia. Hal ini meliputi : bagaimana
seseorang memperoleh
informasi, bagaimana informasi itu kemudian direpresentasikan dan
ditransformasikan sebagai pengetahuan, bagaimana
pengetahuan itu disimpan di dalam
ingatan
kemudian dimunculkan
kembali, bagaimana
pengetahuan
itu
digunakan seseorang untuk mengarahkan sikap-sikap
dan perilaku-perilakunya.
Perkembangan
kognitif pada lansia
meliputi tiga
perkembangan yaitu :
1.
Perkembangan pemikiran postformal
(kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring
dengan pertambahan usia).
2. Perkembangan
memori (berbagai
kesulitan kognitif misalnya
mengalami
kemunduran dalam
perkembangan kemampuan mental,
termasuk kehilangan
memori, disorientasi dan kebingungan).
3. Perkembangan intelegensi
(dalam
proses penuaan terjadi kemunduran dalam intelegensi
umum).
Menurut Desmita (2010:59),
perkembangan kognitif pada lansia pada
umumnya proses kognitif,
memori dan inteligensi mengalami penurunan bersamaan dengan terus bertambahnya usia.
Perkembangan kognitif pada lansia meliputi 3
perkembangan yaitu
:
1. Perkembangan pemikiran postformal
(kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring
dengan pertambahan usia).
2. Perkembangan
memori (berbagai
kesulitan kognitif misalnya
mengalami
kemunduran dalam
perkembangan kemampuan mental,
termasuk kehilangan
memori, disorientasi dan kebingungan).
3. Perkembangan intelegensi
(dalam
proses penuaan terjadi kemunduran dalam intelegensi
umum).
b.
Faktor risiko penurunan fungsi kognitif
Jenis kelamin, wanita lebih beresiko
mengalami penurunan kognitif dari pada laki-laki. Hal ini disebabkan adanya
peranan level hormon seks endogen dalam perubahan fungsi kognitif. Reseptor
estrogen telah ditemukan dalam area otak yang berperan dalam fungsi belajar dan
memori, seperti hipokampus. Penurunan fungsi kognitif umum dan memori verbal
dikaitkan dengan rendahnya level estradiol dalam tubuh. Estradiol diperkirakan
bersifat neuroprotektif yaitu dapat membatasi kerusakan akibat stress oksidatif
serta sebagai pelindung sel saraf dari toksisitas amiloid pada pasien Alzheimer
(Suharman, 2005:46).
Faktor makanan juga mempengaruhi
fungsi kognitif. Kekurangan vitamin D sekitar 25% -54% pada orang berusia 60
keatas dan 74% ditemukan pada wanita pada penderita Alzheimer. Hal tersebut
disebabkan oleh metabolisme
vitamin D yang
kurang efisien pada orang tua. Karena sumber utama
vitamin D adalah sinar matahari, untuk mempertahankan
tingkat serum normal diet saja mungkin tidak cukup tanpa suplementasi.
Hasil dari penelitian tentang vitamin D
dalam fungsi otak adalah adanya reseptor vitamin D pada hippocampus dan
merupakan pelindung dari saraf vitro (Wirawan 2010 : 108).
Salah satu faktor penyakit penting yang
mempengaruhi penurunan kognitif lansia adalah hipertensi. Peningkatan tekanan
darah kronis dapat meningkatkan efek penuaan pada struktur otak, meliputi
penurunan substansia putih dan abu-abu di lobus prefrontal, penurunan hipokampus,
meningkatkan hiperintensitas substansia putih di lobus frontalis. Angina
pektoris, infark miokardium, penyakit jantung koroner dan penyakit vaskular
lainnya juga dikaitkan dengan memburuknya fungsi kognitif (Setiati, S,
dkk. 2009 : 79).
Hasil penelitian Scanlan et al (dalam
Hidayat, 2009 : 92) menunjukkan adanya hubungan
positif antara usia dan penurunan fungsi kognitif. Hasil dari pengukuran fungsi
kognitif pada lansia yang adalah 16% pada kelompok umur 65-69 tahun, 21% pada
70-74 tahun, 30% pada 75-79 tahun, dan 44% pada 80 tahun keatas.
c. Pemerikaan
status mental Mini
Foldstein (MMSE)
Instrumen
pengkajian
fungsi kognitif dengan pemerikaan Status Mental Mini
Foldstein (MMSE) merupakan instrument pengkajian
sederhana yang digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam berfikir
atau menguji aspek-aspek kognitif apakah ada perbaikan atau semakin memburuk.
(Padilla, 2013 : 159)
Mini Mental
Status Examination (MMSE)
merupakan suatu skala terstruktur yang terdiri dari 30 poin yang dikelompokkan
menjadi 7 kategori: orientasi terhadap tempat (negara, provinsi, kota, gedung
dan lantai), orientasi terhadap waktu (tahun, musim, bulan, hari dan tanggal),
registrasi (mengulang dengan cepat 3 kata), atensi dan konsentrasi (secara
berurutan mengurangi 7, dimulai dari angka 100, atau mengeja kata WAHYU secara
terbalik), mengingat kembali (mengingat kembali 3 kata yang telah diulang
sebelumnya), bahasa (memberi nama 2 benda, mengulang kalimat, membaca dengan
keras dan memahami suatu kalimat, menulis kalimat dan mengikuti perintah 3
langkah), dan kontruksi visual (menyalin gambar) (Potter, 2006 : 39).
Skor Mini
Mental Stase
Examination (MMSE)
diberikan berdasarkan jumlah item yang benar sempurna; skor yang makin
rendah mengindikasikan gangguan kognitif yang makin parah. Skor total berkisar
antara 0-30, skor 27-30 menggambarkan kemampuan kognitif sempurna. Skor Mini Mental Stase
Examination (MMSE)
22-26 dicurigai mempunyai kerusakan fungsi kognitif ringan. Selanjutnya untuk
skor Mini Mental Stase Examination (MMSE)
≤ 21 terdapat kerusakan aspek fungsi kognitif berat dan nilai yang rendah ini
mengidentifikasikan resiko untuk demensia (Potter, 2006 : 41).
d. Penatalaksanaan dan upaya menunda
kepikunan yang dikutip dari Nugroho (2014 : 199) adalah sebagai berikut:
1) Upaya
menunda kepikunan
Upaya menunda kepikunan dapat
dilakukan dengan hidup sehat fisik dan rohani (olah raga teratur dengan makanan
4 sehat 5 sempurna), latihan mempertajam memori (kebugaran mental) seperti:
mengerjakan aktivitas sehari-hari secara rutin, misalnya membersihkan lemari es
setiap senin pagi, membuat daftar tugas tertulis, seperti jenis barang yang
akan dibeli, meneruskan belajar dan bekerja
sesuai dengan kemampuan.
e. Usia di
hubungkan dengan perubahan yang berdampak pada fungsi kognitif menurut Padila (2013 : 82-83)
pada umunya
setelah seseorang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif
dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman,
pengertian, perhatian dal lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku
lansia semakin melambat. Sementara fungsi psikomotor (konatif) meliputi hal-hal
yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tingakan,
koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan .
dengan adanya
penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek
psikososial yang berkaitan dengan keadaan pribadi lansia. Beberapa perubahan
tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut
:
1) Tipe
kepribadian konstruktif (construction
personality), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak,tenang dan
mantap sampai sangat tua.
2) Tipe
kepribadian mandiri (independent
personality), pada tipe ini ada kecenrungan mengalami post power sindrome,
apalagi jika pada masa lansia tidak di isi dengan kegiatan yang tepat
memberikan otonomi pada dirinya.
3) Tipe
kepribadian tergantung (dependent
personality), pada tipe ini biasanya sangat dipegaruhi kehidupan keluarga, apabila
kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi
jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang di tinggalkan akan menjadi
merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
4) Tipe
kepribadian bermusuhan (hostility
personality), pada tipe ini telah memasuki lansia tetap merasa tidak puas
dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak di perhitungkan
secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
5) Tipe
kepribadian kritik diri (self hete
personality), pada tipe lansian ini umumnya terlihat sengsara, karena
perilakunya sendiri sulit di bantu orang lain atau cenderung membuat susah
dirinya.
f. Konsikuensi
fungsional di hubungkan dengan fungsi kognitif lansia, teori tentag penuaan,
dan fungsi psikologis
masalah
kesehatan lansia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang di bahas pada
pasien-pasien geriatrik dan psikogeriatrik yang merupakan bagian dari
gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek fisiologis, psikologis,
sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain. (depkes.RI, 1992:6).
Geriatrik
adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia
yang menyangkut aspek promotif, prefensif, kuratif dan rehabilitatif serta
psikososial yang menyertai kehidupan lansia. Sementara psikogeriatri adalah
cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia
yang menyangkut aspek promotof, prevenif, kuratif, dan rehabilitatif serta
psikkososial yang menyertai kehidupan lansia. Ada beberapa faktor yang sangat
berpengaruh terhadap psikologi lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah di
sikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan
bahagia. Adapun beberapa faktor yang di hadapi para lansia yang sangat
mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut :
1) Penurunan
kodisi fisik
Setelah
seseorang memasuki masa lansia umumnya mulai di hinggapi adanya kondisi fisik
yang berifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga
berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin
rapuh,dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia
mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan
gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya
dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan pada orang lain.
Dalam kehidupan
lansia agar dapat tetap menjaga kodisi fisik yang sehat, maka perlu
menyelaraska kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial,
sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat
memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan
baik, misalnya makan, tidur, dan bekerja secara seimbang.
2) Penurunan
fungsi dan potensi seksual
Penurunan fungsi dan
potensi seksualpada lanjut usia seringkali berhubungan dengan berbagai gangguan
fisik seperti gangguan jantung, gangguan metabolisme, misalnya diabetes
militus, vaginitis, baru selesai operasi : misalnya prostatektomi, kekurangan
gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat berkurang,
penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid,
tranquilizer.
Faktor psikologis yang menyertai lansia
antara lain :
a) Rasa
tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
b) Sikap
keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta di perkuat oleh tradisi dan
budaya.
c) Kelelahan
atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
d) Pasangan
hidup telah meninggal
e) Disfungsi
seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya
cemas, depresi dan pikun.
3) Perubahan
yang berkaitan denga pekerjaan
Pada umumnya
perubahan ini di awali ketika masa pensiun. Meskipuntujuan ideal pensiun adalah
agar para lansia dapat menikmati hari tua, namun dalam kenyataannya sering
diartikan sebaliknya, karena pensiun sering di artikan sebagai kehilanga
penghasilan, kependudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun
lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada
point tuga di atas.
Bagaimana
menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia, jawabannya
sangat tergantung pada sikap individu dalam menghadipi masa pensiun. Dalam
kenyataan ada menerima ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang
memiliki jaminan di hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap
pensiun (pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi
masing-masing individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih
menentramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup
lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan
pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan
diri, bukan hanya di beri waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh
gaji penuh.
4) Perubahan
dalam peran sosial di masyarakat
Akibat
berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya
maka muncul ganggaun fungsional atau bahkan kecatatan pada lansia. Misalnya
badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan
sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah
dengan selalu mengajak mereka melakukuan aktifitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup, agar tidak meraa terasing atau di asingkan. Karena jika ketersaingan
terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang
terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangi, mengurung diri,
mengumpulkan barang barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila
bertemu orang lainehingga perilakunya
seperti anak kecil.
5) Perubahan
tingkat depresi
Tingkat depresi
adalah kemampuan lansia dalam menjalani hidup dengan tenang, damai, serta
menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih
sayang.
6) Perubahan
stabilitas emosi
Kemampuan orang
yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan atau konflik akibat
perubahan-perubahan fisik, maupun sosial psikologis yang di alaminya dan
kemampuan untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan
tuntutan dari lingkungan, yang di sertai denga kemampuan mengembagkan mekanisme
psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya tanpa
menimbulkan masalah baru.
3. Kemampuan Interaksi Sosial
Sebagaima diketahui, manusia
adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam
kehidupannya sehari-hari. Oleh karena
itu, tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan
manusia lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia
dengan kelompok, atau hubunga kelompok dengan kelompok inilah yang disebut
interaksi sosial. (Wirawan Sarwono sarlito, 2010 : 185)
Menurut
Soekanto (2005 : 59), syarat-syarat terjadinya interaksi sosial harus memenuhi
2 syarat yaitu :
a. Adanya
kontak sosial.
Kontak sosial dapat
berlangsung dalam 3 bentuk antara lain : antara orang perorangan, antara orang
perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya dan antara suatu
kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.
b. Adanya
komunikasi.
Seseorang memberikan
tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak
badaniah atau sikap), perasaan- perasaan apa yang ingin disampaikan oleh
orang tersebut, kemudian orang
yang bersangkutan memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan
oleh orang lain tersebut.
Menurut Ahmadi (2007 :
49), faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial antara lain :
1) Faktor
imitasi (contoh-mencontoh yang dilakukan individu dari individu lain dalam
kehidupan).
2) Faktor
sugesti (seseorang yang memberikan pandangan atau sikap dari dari dirinya, lalu
diterima oleh orang lain).
3) Faktor
identifikasi (dorongan untuk menjadi identik/sama dengan orang lain, baik
secara lahiriah maupun secara batiniah).
4) Faktor
simpati (perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain).
Menurut Santoso (2010
: 184-185), bentuk-bentuk interaksi sosial
terdiri dari 4 macam yaitu :
a. Kerjasama
(cooperation)
Kerjasama adalah usaha
yang dikoordinasikan yang ditujukan kepada tujuan yang dapat dipisahkan.
b. Persaingan
(competition)
Persaingan adalah
bentuk interaksi sosial dimana seseorang mencapai tujuan, sehingga individu
lain akan dipengaruhi untuk mencapai tujuan mereka.
c. Pertentangan
(conflic)
Konflik adalah proses
yang berselang seling dan terus menerus serta
mungkin timbul pada beberapa waktu dari sama sekali, lebih stabil
berlangsung dalam proses interaksi sosial.
d. Persesuaian
(accomodation)
Persesuaian adalah
suatu proses peningkatan saling adaptasi atau penyesuaian. Persesuaian
mempunyai tingkatan yang lebih tinggi
daripada penyesuaian, karena persesuaian mempunyai tujuan yang lebih
luas daripada tujuan penyesuaian.
Menurut Santoso (2010
: 189-190), tahap-tahap interaksi sosial antara lain:
a. Tahap
pertama (ada kontak/hubungan baik langsung maupun tidak langsung).
b. Tahap
kedua (ada bahan dan waktu untuk berinteraksi sosial).
c. Tahap
ketiga (timbul problema pada bahan-bahan interaksi sosial bagi
individu-individu yang ada).
d. Tahap
keempat (timbul ketegangan masing-masing individu dituntut mencari penyelesaian
terhadap problem yang ada).
e. Tahap
kelima (ada integrasi yaitu perasaan tentram dan perasaan siap untuk menjalin
proses interaksi sosial berikutnya).
Menurut Padila (2013 : 50 – 58) Jenis jenis interaksi sosial
antara lain :
a. Asosiatif
:
Adalah interaksi
yang bersifat menyatukan atau menggabungkan. Asosiasi terjadi melalui kerja
sama (koperasi) untuk mencapai tujuan/kepentingn bersama koperasi terdiri dari:
1) Bargaining
(tawar menawar)
2) Kooptasi
(kerja sama melalui proses tukar menukar nilai proses kehidupan)
3) Koalisi
(kerja sama dengan menghilangkan kelemahan kelemahan masing masing anggota
untuk membentuk kekuatan baru kepentingan bersama)
b. Dissosiatif
: Bersifat memisahkan,disosiasi terbagi atas:
1) Kompetesi
(persaingan)
2) Konkurensi
(perlawanan)
3) Konflik
(bertentangan)
c. Akomodasi/adaptasi
(penyelesaian dissosiasi yang mencapai konflik) Adalah interaksi sosial yang
bersifat menampung/ mewadahi/memberi fasilitas kemudahan. Jenis-jenis
akomodasi terdiri dari:
1) Persuasi
(himbauan ajakna bagi yang konflik supaya danai kembali)
2) Kompromi
(damai)
3) Mediasi
(mencari pihak ketiga yang bisa membela yang benar)
4) Arbitrasi/perwasitan
(mencari pihak ketiga yang netral/ tidak
memihak)
5) Statemate
adalah penyelesaian konflik melalui cara menunujukan kepada pihak pihak yang
konflik bahwa kalu terus juga konflik maka semuanya akan hancur karena masing
masing yang berkonflik memiliki kekuatan penghancur.
6) Konkliasi
(penyelesaian konflik dengan menemukan titik temu yang saling menguntungkan
pihak pihak yeng berkonflik dan disetujui bersama)
7) Toleransi
(bertenggang rasa,menahan diri)
8) Koersi
melalui paksaan
9) Aducation
melalui pengadilan
Adik wibowo, (2014 : 27) Hasil hasil
dari interaksi sosial antara lain:
a. Mitasi
(peniruan)
b. Identifikasi
( meniru orang orang terdekat atau orang orang yang berpengaruh, identifikasi
sering disebut menemukan jati diri)
c. Sugesti
adalah gerak hati untuk meniru segala sesuatu yang ada diluar diri dibagi dua
yaitu:
1) Auto
sugesti adalah keinginan meniru apa apa yang ada di luar diri timbul dari gerak
hati
2) Allo
sugesti adalah gerak hati untuk meniru karena ada rangsangan dari luar rangsangan
ini bisa timbul dari manusia dan bisa timbul dari alat atau sarana.
d. Simpati
adalah ketertarikan ingin sama seperti orang lain dari sikap, ucapan dll.
e. Empati
adalah jika simpati telah mendalam sehingga seakan akan orang lain adalah diri
sendiri.
Pratiknya (2014 : 17)
Tahap tahap dalam memperoleh hasil interaksi sosial antara lain :
a. Tahap
persepsi yaitu tahap penanggapan
b. Tahap
interpretasi yaitu tahap memberi makna atau tahap menafsirkan
c. Tahap
konklusi yaitu tahap menyimpulkan :mau ikut/mengikuti atau tidak.
Saryono (2011 :
21) Situasi interaksi sosial Adalah keadaan atau kondisi yang terjadi
pada seseorang sebagai akibat berinteraksi sosila yang mencakup:
a. Merasa
puas karena hasrat berinteraksi telah disalurkan
b. Rasa
puas karena telah mampu menyesuaikan diri dengan perilaku orang lain dan dengan
norma yang berlaku umum yang dipedomani orang orang
c. Merasa
puas karena telah mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi lingkungan
hidup.
B. Kerangka Teori
|
Lanjut Usia 60 ke
atas
|
|
Perubahan :
1. Fisik
2. Mental
3. Psikososial
4. Spiritual
|
|
Mudah lupa/kemunduran
Fungsi Kognitif
|
|
Lansia Menjadi :
1. Kurang Mandiri
2. gangguan Komunikasi
|
|
Kemampuan interaksi Sosial:
1. Adanya kontak sosial
2. Adanya komunikasi
|
Gambar
2.1
C.Kerangka
Konsep
|
Gangguan interaksi
sosial
|
|
Perkembangan Kognitif
|
Ket:
Diteliti
Gambar
2.2
D. Defenisi
Operasional
|
No
|
Variable
|
Defenisi
oprasional
|
Cara
ukur
|
Parameter
|
Jenis
data
|
|
1.
|
Variabel
dependen
Interaksi
sosial
|
Kontak
sosial dapat berlangsung dalam 3 bentuk antara lain : antara orang
perorangan, antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia.
Adanya
komunikasi.
Seseorang
memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan,
gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan- perasaan apa yang ingin
disampaikan oleh orang
tersebut
|
Kusioner
interaksi sosial
|
Bila
pernyataan positif :
Ss
skor 4
S skor 3
Ts
skor 2
Sts
skor 1
Bila
pernyataan negatif :
Ss
skor 1
S skor 2
Ts
skor 3
Sts
skor 4
|
Variabel
dependen
Interaksi
sosial
|
|
2.
|
Variabel
independen:
Fungsi
kognitif
|
1. Perkembangan pemikiran postformal
(kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring
dengan pertambahan usia).
2. Perkembangan memori
(berbagai kesulitan
kognitif misalnya mengalami kemunduran dalam perkembangan
kemampuan mental,
termasuk kehilangan
memori, disorientasi
dan kebingungan).
3. Perkembangan
intelegensi
(dalam
proses penuaan terjadi kemunduran dalam intelegensi
umum).
|
MMSE
fungsi kognitif
|
Skor
fungi kognitif:
Skor 1 untuk jawaban benar
Skor
0 untk jawaban salah
|
|
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Profil
Tempat Penelitian
1.
Visi, Misi dan Tujuan UPTD PUSKESMAS LIBURENG
a.
Visi UPTD PUSKESMAS LIBURENG
Masyarakat Libureng yang mandiri untuk
hidup sehat tahun 2017.
b.
Misi UPTD PUSKESMAS LIBURENG
Adapun Misi UPTD Puskesmas Libureng sebagai
berikut :
-
Menggerakkan
pembangunan berwawasan kesehatan
-
Mendorong kemandirian
masyarakat untuk hidup sehat
-
Memelihara dan
meningkatkan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau
-
Meningkatkan dan
mendaya gunakan sumber daya kesehatan
c. Tujuan
1)
Agar dapat
meningkatkan pembangunan berwawasan kesehatan
2)
Agar dapat meningkatkan
kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3)
Agar dapat
meningkatkan dan memelihara kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau
4) Agar
dapat meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya kesehatan.
2. Geografis
Kecamatan
Libureng merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Bone yang terletak di
sebelah selatan ibu kota kabupaten Bone yang mempunyai luas wilayah 265,24 km
persegi, dan terdiri dari 13 desa dengan letak geografis kecamatan Libureng
kabupaten Bone sebagai berikut :
a.
Sebelah utara
berbatasan dengan kecamatan Ponre.
b.
Sebelah timur
berbatasan dengan kecamatan Patimpeng.
c.
Sebelah selatan
berbatasan dengan kecamatan Kahu.
d.
Sebelah barat
berbatasan dengan kecamatan Lappariaja.
3. Demokrafis
Unit pelaksana
teknis daerah (UPTD) puskesmas Libureng kecamatan Libureng kabupaten Bone
terdiri dari 13 desa serta 50 dusun dan dengan jumlah kepala keluarga (KK)
sebanyak 5424 serta jumlah penduduk sebanyak 20586 jiwa, yang terdiri dari
laki-laki sebanyak 10265 jiwa dan perempuan sebanyak 10321 jiwa.
4. Sosial Ekonomi
a. Pendidikan
Unit pelaksana
teknis daerah (UPTD) puskesmas Libureng kecamatan Libureng kabupaten Bone
mempunyai sarana pendidika sebagai berikut :
Sekolah
Menengah Umum (SMU) 1 buah, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 buah, Sekolah
Menengah Pertama (SMP) 6 buah dan Sekolah Dasar (SD) sebanyak 21 buah serta
Taman Kanak-kanak (TK) 15 buah.
5. Kesehatan
a. Sarana
kesehatan yang ada pada Unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Puskesmas Libureng Kecamatan Libureng
kabupaten Bone.
1)
Puskesmas sebanyak 1
buah
2)
Puskesmas pembantu
(pustu) sebanyak 2 buah
3)
Pos kesehatan desa
(poskesdes) sebanyak 6 buah
4)
Pos pelayanan terpadu
(posyandu) sebanyak 28 buah
5)
Kendaraan roda empat
sebanyak 1 buah
6)
Kendaraan roda dua
sebanyak 12 buah
b. Tenaga Kesehatan
yang ada pada Unit pelaksana teknis daerah (UPTD) puskesmas Libureng
1)
Dokter umum 2 orang
2)
Dokter gigi 1 orang
3)
Tenaga bidan
puskesmas/bidan di desa 18 orang
4)
Perawat umum 11 orang/
perawat gigi 2 orang
5)
Tenaga kesling 2 orang
6)
Tenaga gizi 2 orang
7) Tenaga
administrasi : kesmas 3 orang, pekarya kesehatan 3 orang.
c. Pola Penyakit
Di puskesmas Libureng mempunyai 10 urutan
penyakit terbesar yaitu :
1)
Alergi : 2398 orang
2)
Sistem otot : 1782 orang
3)
Batuk : 1722
orang
4)
Demam : 1371 orang
5)
Gastritis : 974 orang
6)
Luka : 598
orang
7)
Hipertensi : 171 orang
8)
Sakit gigi/pulpa &
jaringan : 467 orang
9)
Influensa : 338 oranng
10)
Asma : 278 orang
6. Mata
Pencaharian :
Penduduk kecamatan Libureng kabupaten
Bone mempunyai mata pencaharian di antaranya sebagian besar petani,
pengusaha/pedagang dan PNS (Pegawai Negeri Sipil).
7. Strategi
Untuk mewujudkan visi UPTD Puskesmas
Libureng dan sesuai dengan misi yang
telah ditetapkan, maka strategi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Menggerakkan
dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.
Dalam
era reformasi, masyarakat harus dapat berperan aktif dalam pembangunan
kesehatan, di mulai sejak penyusunan berbagai kebijakan pembangunan kesehatan.
Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mendorong masyarakat agar mampu secara
mandiri menjamin terpenuhnya kebutuhan kesehatan dan keseimbangan pelayanan
keehatan.
Dalam
pemberdayaan masyarakat perlu terus dikembangkan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) serta upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM). Dalam rangka
mewujudkan “Desa siaga” melalui desa sehat.
b.
meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Sesuai
dengan paradigma sehat dan fungsi puskesmas, Unit pelaksana teknis daerah
(UPTD) puskesmas Libureng mengutamakan pada upaya kesehatan masyarakat yang
dipadukan secara serasi dan seimbang dengan upaya kesehatan perorangan. Unit
pelaksana teknis daerah (UPTD) Puskesmas Libureng mamfasilitasi upaya
revitalisasi sistem kesehatan dasar dan rujukannya dengan memperluas jaringan
yang efektif dan efesien, serta peningkatan kualitas pelayanan sesuai dengan
standar yang ditetapkan.
c. meningkatkan
sistem survellance,monitoring dan informasi kesehatan.
Peningkatan
survellance dan monitoring dilaksanakan dengan miningkatkan peran aktif
masyarakat dalam pelaporan masalah keehatan diwilayahnya. Disamping itu,
dikembangkan dan ditingkatkan pula sistem peringatan dini dan penunjang
kedaruratan kesehatan. Sistem informasi kesehatan pada semua tingkat
administrasi pemerintahan juga perlu diperbaiki dan di mantapkan.
d. Meningkatkan
pembiayaan kesehatan
dalam
meningkatkan upaya pengelolaan sumber daya pembiayaan yang efektif dan efesien,
khususnya dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, dikembangkan sistem jaminan
kesehatan sosial yang dimulai dengan asuransi kesehatan penduduk miskin
(jamkesmas) jamkesda, jampersal dan pengembangan dana sehat yang berpihak pada
JPKM. Fasilitas kesehatan pemerintah diupayakan dapat mengelola hasil pendapat
pelayanan kepada masyarakat.
B. Desain
Penelitian
Jenis penelitian
kuantitatif adalah variabel yang dapat di ukur dan dinumerikkan (Adik wibowo,
2014 : 73), yang menggunakan rancangan diskriptif korelatif yaitu
mengacu pada kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh variasi
variabel yang lain, dengan pendekatan cross sectional yaitu penenlitian
non-eksperimental dalam rangka mempelajari dinamika korelasi antara
faktor-faktor resiko dengan efek yang berupa penyakit atau status kesehatan
tertentu dengan model pendekatan point time. (Pratiknya, Ahmad Watik, 2014 :
168)
Penelitian
yang dilakukan melalui
tahapan-tahapan
penelitian
sebagai berikut:
a. Persiapan
materi dan konsep yang mendukung
jalannya penelitian.
b. Studi pendahuluan meminta data yang diperlukan dalam penelitian ke
Dinas Kesehatan
watampone dan puskesmas Libureng.
c. Permohonan izin kepada Kepala Desa dan
RT/RW setempat
d. Meminta data
atau jumlah populasi lansia tahun terakhir.
e. Penyusunan proposal penelitian yang
dilanjutkan
dengan
pengujian proposal penelitian.
f. Mengunjungi responden ke alamat rumah
g. Pelaksanaan
penelitian terhadap lansia yang memenuhi kriteria inklusi.
h. Mengumpulkan data primer dengan memberi kuesioner kepada keluarga dengan
lansia.
i. Data dikumpulkan kemudian
dianalisis secara univariat
dan bivariat.
j. Penyusunan hasil dan pembahasan
kedalam laporan hasil penelitian.
C.
Populasi dan Sampel
Saryono (2011 :
63) berpendapat bahwa populasi merupakan keseluruhan sumber data yang
diperlukan dalam suatu penelitian. Penentuan sumber data dalam suatu penelitian sangatlah penting
dan
menentukan keakuratan hasil
penelitian. Populasi penelitian ini adalah keluarga
dengan lansia
di wilayah kerja puskesmas libureng dengan
jumlah sampel 89 orang.
Sampel adalah bagian
dari populasi yang sengaja dipilih oleh peneliti untuk diamati, sehingga sampel
ukurannya lebih kecil dibandingkan populasi dan berfungsi sebagai wakil dari
populasi (Nurhayati sitti, 2012 : 36). Penelitian ini menggunakan “total sampling”. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah semua lansia berusia 60 -74 tahun yang tinggal di
wilayah kerja puskesmas Libureng Kecamatan Libureng Kabupaten Bone yang berjumlah 89 orang.
Sampel penelitian adalah anggota keluarga dengan lansia yang tinggal satu rumah di wilayah
kerja puskesmas libureng Kecamatan Libureng Kabupaten Bone, yang
memenuhi kriteria inklusi, yaitu:
1)
bersedia menjadi
responden
2)
tinggal satu rumah dengan
lansia 60-74 tahun (extended
family)
Sedangkan
kriteria eksklusinya yaitu:
1) responden
mengalami
gangguan komunikasi.
2) Lansia mengalami sakit.
D. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Kecamatan Libureng wilayah kerja Puskesmas Libureng, pada bulan
Desember 2015 sampai dengan Januari 2016, yaitu minggu pertama sampai minggu ke
delapan. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang mengikuti kegiatan
posyandu lansia di Kecamatan Libureng wilayah kerja Puskesmas Libureng.
Teknik sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah simple random sampling (acak sederhana) yaitu populasi yang benar-benar atau
mendekati homogen dan sudah teridentifikasi banyaknya subyek atau unit
analisis. (Pratiknya ahmad watik, 2014 : 60)
E.Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen penelitian menurut
Saryono
(2011 : 98) merupakan
alat atau fasilitas yang
digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data. Instrumen yang
akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala/instrumen
dukungan keluarga dan skala/instrumen kemandirian lansia (barthel indeks).
a. Fungsi Kognitif
Fungsi Kognitif diukur dengan
menggunakan MMSE (Mini Mental Stase Examination) menurut Nugroho (2014 :
182-183) tes ini terdiri atas empat bagian yaitu tes orientasi (tanggal, hari,
waktu), picture memory test (recall), visuo-spatial tet (clock drawing), verbal
fluency/expressive languege test (naming) dengan skor : nilai 24-30 adalah
normal, nilai 17-23 adalah mengkin
mengalami gangguan kognitif, 0-16 adalah pasti ada gangguan kognitif.
b. Kemampuan Interaksi Sosial
Kemampuan Interaksi
Sosial diukur dengan menggunakan kuesioner yang
dimodifikasi oleh peneliti dari
penelitian yang telah dilakukan oleh Susanto (2009 : 137). Instrumen ini
terdiri dari 6 pernyataan, yaitu :
Data diolah dengan ketentuan:
1) alternatif
jawaban yang diberikan : Sering (S) skor
3
Kadang-kadang
(KK) skor 2
Tidak
pernah(TP) skor 1
Interpretasi
kriteria adalah sebagai berikut:
1) Interaksi
sosial baik jika (x) > (mean) 55,975.
2) Interaksi
sosial kurang jika (x) < (mean) 55,975.
F. Tehnik analisa data
Menurut
Notoatmodjo (2010 : 176-177) data yang telah terkumpul akan diolah dengan proses pengolahan data
sebagai
berikut:
a. Editing
Editing
adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan memperbaiki isian formulir atau
kuesioner.
b. Coding
Coding adalah
mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
c. Tabulasi/Entry
data
Adalah data,
yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk “kode”
(angka atau huruf) dimasukkan kedalam program atau “software” komputer. Dalam
proses ini juga dituntut ketelitian dari orang yang melakukan “data entry” ini.
Apabila tidak maka akan terjadi bia, mekipun hanya memasukkan data saja.
d.
Pembersihan data
(Cleaning)
Apabila semua data dari setiap sumber data atau reponden
selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan
adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan,dan sebagainya, kemudian
dilakukan pembentukan atau koreksi.
Teknik
statistik yang digunakan adalah statistik nonparametris karena untuk
menganalisis data yang berbentuk nominal dan persyaratan data tidak harus
berdistribusi normal. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan rumus korelasi Chi Square yang lebih mudah dalam mengerjakan
hubungan antara dua variabel dengan skala data nominal (Sugiyono, 2009 : 17).
Syarat
uji Chi Square adalah apabila skala data yang digunakan salah satunya
berbentuk nominal dan sampelnya besar (>40), sampel dipilih secara acak,
semua pengamatan dilakukan secara independen, setiap sel paling sedikit berisi
frekuensi harapan sebesar 1, sel-sel dengan frekuensi harapan < 5 tidak
melebihi 20% dari total sel, untuk tabel 2x2 tidak boleh ada frekuensi harapan
< 5 (Sugiyono, 2009 : 19).
Apabila Xhitung < Xtabel, makaH0 diterima, artinya tidak ada hubungan antara variabel bebas
dan variabel terikat. Sedangkan apabila X2hitung > X2tabel, maka H0 ditolak,
artinya ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat (Sugiyono, 2009
: 22).
Sedangkan untuk
mengetahui kekuatan hubungan baris dengan kolom dapat diukur menggunakan r hitung /Value Contingency Coefficient. Hubungan baris dengan kolom
dikatakan kuat apabila r hitung > 0,5, sedangkan hubungan baris dengan kolom
dikatakan lemah apabila r hitung < 0,5 (Santosa,
2000 : 34).
G.
Perlindungan Subjek Manusia (etik)
Etika adalah prinsip moral yang mempengaruhi tindakan. Dalam berbagai
disiplin ilmu, penelitian yang melibatkan manusia atau hewan, peneliti harus mempertimbangkan
isu etik (Saryono, 2011
: 56). Penelitian ini menjunjung tinggi prinsip
etika
penelitian yang
merupakan standar etika dalam
melakukan penelitian yaitu
:
1. Prinsip Manfaat
Prinsip ini mengharuskan peneliti untuk memperkecil resiko dan
memaksimalkan manfaat. Penelitian terhadap manusia diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kepentingan manusia secara
individu atau masyarakat secara
keseluruhan. Prinsip
ini
meliputi hak untuk
mendapatkan perlindungan dari
penderitaan dan kegelisahan dan
hak untuk mendapat
perlindungan
dari
eksploitasi.
2. Prinsip Menghargai Hak Asasi
Manusia (Respect Human Dignit )
a. Hak untuk ikut atau tidak untuk menjadi informan
(right to self-
determination). Dalam hal ini keluarga
memutuskan sendiri apakah
mereka mau atau tidak menjadi partisipan.
b. Hak untuk mendapatkan
jaminan dari perlakuan yang
diberikan. Peneliti
menjelaskan secara rinci
tentang penelitian
yang akan dilakukan dan bertanggung
jawab ketika melaksanakan
penelitian tersebut.
c. Informed Consent
Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan partisipan
dengan
memberikan lembar persetujuan. Peneliti memberikan informasi
secara lengkap
kepada partisipan tentang tujuan penelitian
yang akan
dilaksanakan
dan partisipan mempunyai
hak
untuk bebas menerima atau menolak menjadi
partisipan.
3. Prinsip Keadilan (Right to Justice)
a. Hak untuk mendapatkan perlakuan
yang adil
(right in fair treatment). Subyek harus diperlakukan secara adil selama keikutsertannya dalam penelitian tanpa
diskriminasi apabila mereka tidak bersedia atau dropped out sebagai informan.
b. Dijaga kerahasiaannya (right
to privacy). Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang
diberikan
harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya anominity (tanpa
nama) dan
confidentially (rahasia). Peneliti memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian baik informasi maupun
masalah-masalah
lainnya (Hidayat,
2009 : 73 ).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada
bab
ini akan dijelaskan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Libureng, Kecamatan Libureng Kabupaten Bone.
A. Hasil
Penelitian
1.
Karakteristik Responden
Tabel.1
Distribusi
Karakteristik Responden
|
No.
|
Karakteristik
|
Uraian
|
Jumlah
|
Proentase (%)
|
|
1
|
Jenis
Kelamin
|
Laki-Laki
Perempuan
|
29
60
|
32.6
67.4
|
|
2
|
Umur
(tahun)
|
60 – 69
70 – 79
80 – 89
>
90
|
48
28
12
1
|
53.9
31.5
13.5
1.12
|
|
3
|
Statu Perkawinan
|
Kawin
Tidak Kawin
Janda/Duda
|
63
0
26
|
70.8
0
32.5
|
|
4
|
Pendidikan
|
Tidak Sekolah
Sekolah
|
64
25
|
71.9
28.1
|
Sumber
: Data primer yang diolah tahun 2015
2. Fungsi Kognitif
Tabel.2
Ditribusi
Fungsi Kognitif Responden
|
No.
|
Fungsi
Kognitif
|
Jumlah
|
Proentase
(%)
|
|
1
|
Fungsi
Kognitif Baik
|
48
|
53.9
|
|
2
|
Fungsi
Kognitif Buruk
|
41
|
46.1
|
|
Total
|
89
|
100%
|
|
Sumber
: Data Primer yang diolah tahun 2015
3.
Kemampuan Interaksi Sosial
Tabel.3
Ditribui
Kemampuan Interaksi Sosial Responden
|
No.
|
Kemampuan
Interaki Sosial
|
Jumlah
|
Prosentase
(%)
|
|
1
|
Kemampuan
Interaksi Sosial Baik
|
53
|
59.6
|
|
2
|
Kemampuan
Interaksi Sosial Kurang Baik
|
36
|
40.4
|
|
Total
|
89
|
100%
|
|
Sumber
: Data Primer yang diolah tahun 2015
4.
Hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial
Tabael.4
tabel
silang antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial responden
|
No
|
Fungsi
kognitif
|
Interaksi
sosial
|
Total
|
%
|
|
|
|||
|
Baik
|
%
|
Kurang
baik
|
%
|
||||||
|
1
|
Baik
|
45
|
50.6
|
3
|
3.4
|
48
|
53.9
|
50.593
|
0.000
|
|
2
|
Buruk
|
8
|
8.9
|
33
|
37.1
|
41
|
46.1
|
|
|
|
Total
|
53
|
59.5
|
36
|
40.5
|
89
|
100
|
|
|
|
Sumber
: Data Primer yang diolah tahun 2015
Tabel 4. menunjukkan bahwa responden yang mempunyai fungsi kognitif
baik dengan kemampuan interaksi sosial baik lebih banyak dibandingkan dengan
yang lainnya yaitu sejumlah 45 responden (50,6%), responden yang mempunyai
fungsi kognitif buruk dengan kemampuan interaksi sosial baik sejumlah 8 responden
(8,9%), responden yang mempunyai fungsi kognitif baik dengan kemampuan
interaksi sosial kurang sejumlah
3 responden (3,4%), sedangkan responden yang mempunyai fungsi kognitif buruk dengan kemampuan
interaksi sosial kurang sejumlah 33 responden (37,1%).
Hasil
analisa data dengan uji Chi Square di peroleh hasil X2 = 50.593 dimana X2hitung > X2tabel , (df:1, X2tabel dengan tingkat signifikasi 5% = 3,481)dan p = 0,000 dimana p < 0,05, maka H0 ditolak sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara
fungsi
kognitif dengan kemampuan interaksi sosial
pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Libureng kabupaten Bone. Sedangkan untuk pengukuran kekuatan hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial diperoleh
hasil Value
Contingency Coefficient sebesar 0,28 dengan
tingkat signifikansi sebesar
0,000. Hal ini menunjukkan bahwa
kekuatan hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan
interaksi sosial cukup lemah karena Value Contingency Coefficient < 0,5.
B. Pembahasan
1.
Karakteristik Responden
Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan
bahwa responden perempuan cenderung lebih banyak dibandingkan
dengan
responden
laki-laki
yaitu sejumlah 60 responden (67,4%). Berbagai
penelitian
menunjukkan bahwa
faktor jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap
fungsi kognitif pada lansia. Perempuan cenderung mempunyai resiko lebih besar terjadinya gangguan fungsi kognitif dibandingkan dengan laki-laki,
hal
ini disebabkan karena
adanya penurunan
hormon estrogen pada
perempuan
menopouse, sehingga
meningkatkan resiko penyakit neuro
degeneratif, karena hormon
ini
diketahui
memegang peranan penting dalam memelihara fungsi otak. Selain
itu,
usia harapan hidup perempuan juga
lebih
tinggi dibandingkan dengan
usia harapan hidup laki-laki, sehingga
populasi lansia
perempuan
lebih
banyak daripada lansia laki-laki
(Hesti,
dkk, 2008 : 26).
Distribusi responden berdasarkan
umur menunjukkan
bahwa responden umur diantara 60 - 69
cenderung lebih
banyak dibandingkan
dengan
responden umur 70 tahun ke atas yaitu sejumlah 48 responden
(53,9%). Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa faktor
umur
sangat berpengaruh terhadap fungsi
kognitif pada
lansia. Pada
umumnya lansia
cenderung sulit untuk mengingat
hal-hal yang baru atau
hal-hal yang
lama karena lansia tidak termotivasi untuk mengingat
sesuatu. Ketidakmampuan dalam mengingat ini
salah satunya dipengaruhi oleh
faktor
usia. Bertambahnya
umur
merupakan
faktor resiko
mayor terjadinya penurunan fungsi kognitif karena otak mengalami beberapa
perubahan. Terbentuknya flaq disekitar area otak
menyebabkan
sel mitikondria otak lebih mudah rusak dan berpengaruh
juga terhadap
terjadinya peningkatan
inflamasi
(Yuniati &
Riza, 2004 : 9-25).
Distribusi responden berdasarkan
status perkawinan
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden berstatus kawin yaitu
sejumlah 63 responden (70,8%). Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa faktor status perkawinan sangat berpengaruh terhadap fungsi
kognitif pada
lansia. Pada tahap
perkembangan masa
usia
lanjut, lansia mengharapkan
adanya seseorang yang berarti
bagi
dirinya
untuk
menemani hingga
akhir hayat. Seseorang yang belum menikah atau
tidak memiliki pasangan cenderung merasa
kesepian dihari tuanya dibandingkan
dengan seseorang yang mempunyai pasangan. Faktor ini
sangat berpengaruh karena
dengan memiliki pasangan seseorang akan
mendapatkan dukungan dari pasangan terutama saat mengalami
tekanan
emosi baik stres maupun gejala depresi yang muncul
karena perubahan pola hidup dan konflik yang muncul
(Rahmawati & Puspitawati,
2010
: 160-171).
Distribusi responden berdasarkan pendidikan menunjukkan
bahwa responden yang tidak sekolah
cenderung lebih
banyak dibandingkan dengan responden yang tidak sekolah yaitu sejumlah 64 responden (71,9%).
Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa
faktor pendidikan sangat
berpengaruh terhadap fungsi kognitif
pada lansia. Hal ini disebabkan karena pada jaman dahulu pendidikan masih rendah. Hanya
orang-orang tertentu saja yang bisa sekolah
sampai melanjutkan
pendidikan yang lebih
tinggi. Begitu juga lansia laki-laki cenderung lebih
banyak melanjutkan
pendidikan
yang lebih tinggi dibandingkan
dengan
lansia perempuan. Tingkat pendidikan yang tinggi mempunyai resiko lebih rendah
terjadinya penurunan fungsi kognitif karena dengan
proses pendidikan
yang
berjalan
terus menerus
seseorang akan
cenderung mempunyai kemampuan dalam uji
fungsi kognitif.
Tingkat pendidikan juga
merupakan hal
terpenting dalam
menghadapi masalah. Semakin tinggi pendidikan
seseorang, semakin
banyak pengalaman hidup yang
dilaluinya, sehingga
akan lebih siap
dalam menghadapi masalah yang akan
terjadi (Tamher & Noorkasiani, 2009 : 172).
2. Analisis
Univariat dan Bivariat
a. Fungsi Kognitif
Distribusi fungsi
kognitif
responden
menunjukkan
bahwa
sebagian besar responden
mempunyai fungsi
kognitif baik yaitu sejumlah 48 responden (53,9%). Kemampuan kognitif terus berkembang selama masa dewasa, tetapi
tidak semua
perubahan
kognitif pada
masa dewasa mengarah pada peningkatan potensi.
Bahkan kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif mengalami
kemerosotan seiring dengan pertambahan
usia. Meskipun
demikian, sejumlah ahli berpendapat bahwa
kemunduran keterampilan
kognitif
yang terjadi terutama
pada masa dewasa akhir, dapat
ditingkatkan
kembali
melalui serangkaian pelatihan
(Desmita, 2010: 68).
Selain itu tinggi
rendahnya nilai
fungsi kognitif dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi
kognitif, antara
lain jenis
kelamin, umur, status perkawinan
dan pendidikan.
Responden yang mempunyai fungsi
kognitif buruk salah satunya
dipengaruhi karena adanya perubahan fungsi
kognitif. Konsep bahwa
gangguan
kognitif sering terjadi pada lansia merupakan konsep yang salah,
karena dengan konsep itu
mengakibatkan lansia
khawatir kalau fungsi
kognitifnya akan terganggu. Beberapa perubahan
struktur dan fisiologis
otak
yang dihubungkan dengan gangguan kognitif bisa terjadi
pada
lansia yang mengalami gangguan fungsi
kognitif atau tidak, karena gejala gangguan
kognitif seperti disorientasi,
kehilangan keterampilan, berbahasa dan
berhitung, serta penilaian
yang buruk
bukan
merupakan proses penuaan
yang normal. Keadaan
yang
mempengaruhi fungsi kognitif lansia antara lain adalah delirium,
dan depresi (Potter &
Perry, 2009 : 72).
b. Kemampuan Interaksi Sosial
Distribusi kemampuan interaksi sosial
responden menunjukkan bahwa sebagian
besar responden
mempunyai kemampuan interaksi sosial baik yaitu
sejumlah 53 responden (59,6%).
Interaksi sosial yang baik tersebut didukung oleh
sikap
lansia yang
tinggal di kecamatan libureng wilayah kerja
Puskesmas libureng yang rata-rata mempunyai sikap terbuka
dan tidak mengucilkan
dirinya terhadap
kegiatan-kegiatan atau hubungan berinteraksi dengan orang lain yang menyebabkan lansia mudah bergaul
dengan
teman-teman atau tetangga.
Hal ini sesuai dengan pendapat (Santosa,
2010
: 41), yang menyatakan
bahwa kemampuan interaksi sosial
dipengaruhi oleh bentuk-bentuk interaksi sosial
yang terdiri dari kerjasama, persaingan, pertentangan dan
persesuaian
mengingat responden tinggal dalam
lingkup bermasyarakat. Selain itu lansia yang tinggal
divwilayah kerja Puskesmas Libureng ini tetap
melakukan
sosialisasi atau interaksi
satu sama lain
dan didukung dengan
adanya posyandu-posyandu
lansia di
Libureng.
Hasil penelitian menunjukkan lansia
yang
mempunyai kemampuan interaksi sosial
adalah lansia
yang
masih mampu
melakukan interaksi
sosial yang masih sehat fisik maupun psikisnya. Hal
ini sesuai dengan
pendapat Soekanto (2005
: 78), yang menyatakan
bahwa
syarat-syarat adanya
interaksi sosial
antara lain adalah adanya kontak sosial dan
adanya komunikasi. Tanpa kedua syarat tersebut maka seseorang tidak
bisa dikatakan berinteraksi
sosial karena yang dimaksud dengan interaksi adalah apabila ada dua orang
atau lebih.
Pada lansia yang mengalami
interaksi sosial
kurang
disebabkan karena adanya beberapa faktor yang mengganggu
mereka,
seperti jarangnya
berkomunikasi, sedikit
berbaur dengan yang lain
dan suka
menarik diri.
Hal ini sesuai dengan teori psikososial menurut (Tamher &
Noorkasiani, 2009 : 170), yang menyatakan
bahwa
individu
atau masyarakat
mengalami
keadaan menarik diri.
Memasuki usia tua, individu
mulai
menarik diri dari masyarakat, sehingga memungkinkan individu untuk menyimpan lebih banyak aktivitas-aktivitas yang berfokus
pada dirinya dalam memenuhi kestabilan pada stadium ini. Perubahan psikis lansia
yang dapat menyebabkan
kemunduran
dalam berinteraksi
sosial
adalah lansia
yang mengalami perasaan
rendah diri, bersalah
atau merasa tidak berguna lagi, apalagi apabila
lansia sudah ditinggal pasangan hidupnya. Kondisi-kondisi seperti
ini membuat lansia
menutup
diri dengan orang muda atau sebayanya, sehingga sudah
tidak berminat untuk kontak sosial dan
menghabiskan waktu untuk
tidur (Pieter & Lubis, 2010 :
113)
c. Hubungan
Antara Fungsi Kognitif
Dengan Kemampuan
Interaksi Sosial
Hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial menunjukkan
bahwa
responden
yang
mempunyai fungsi kognitif baik dengan
kemampuan interaksi
sosial baik cenderung lebih banyak dibandingkan dengan yang lainnya yaitu
sejumlah 45 responden (50,6%). Seseorang yang
berpartisipasi secara aktif dalam
berinteraksi sosial
dengan baik seperti kontak mata dan mempunyai keterikatan emosional dengan teman
dekat atau ikut
serta dalam
memberikan respon terhadap suatu situasi
yang santai akan mempunyai fungsi kognitif yang baik.
Sedangkan seseorang yang tidak
mau berinteraksi sosial dengan baik dan
tidak mampu beradaptasi
dengan perubahan sosial
akan
menimbulkan reaksi stres dimulai
dengan
meningkatnya produksi glukocorticoid dan ini
berpengaruh terhadap hipotalamus dan secara perlahan akan mempengaruhi fungsi
kognitifnya
(Hesti, dkk,
2008
: 31).
Responden yang mempunyai fungsi
kognitif baik tetapi
mempunyai kemampuan interaksi
sosial yang kurang disebabkan
responden
mempunyai pendidikan
yang tinggi tetapi
tidak mau
berinteraksi
dengan orang lain. Hal ini terjadi karena faktor kesehatan yang membuat mereka terpaksa untuk mengundurkan
diri
dari
kegiatan sosial yang dianggap sudah tidak
cocok dengan kebutuhan
mereka. Sedangkan responden yang mempunyai fungsi kognitif buruk tetapi mempunyai
kemampuan interaksi sosial yang baik
disebabkan
responden merasa
dirinya masih kurang pengetahuan
sehingga mereka
berusaha untuk mencari tambahan pengetahuan dengan
cara
berinteraksi sosial, baik yang dengan orang yang
sudah dikenal
atau belum dikenal sebelumnya.
Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin
banyak pengalaman hidup yang
dilaluinya, sehingga
akan lebih siap dalam menghadapi
masalah yang terjadi (Tamher
& Noorkasiani, 2009 : 172).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa
fungsi kognitif
berpengaruh secara
langsung
terhadap kemampuan interaksi sosial
pada lansia yang tinggal di wilayah
kerja Puskesmas
Libureng. Hal ini dapat diketahui
bahwa semakin tinggi
nilai fungsi
kognitif pada lansia
menjadi acuan dalam meningkatnya kemampuan interaksi sosial
pada lansia atau sebaliknya. Hal ini
dibuktikan dengan hasil uji
hipotesis penelitian yang menyatakan
bahwa
H0 ditolak, sehingga interpretasinya adalah ada
hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada
lansia di
wilayah kerja Puskesmas
Libureng. Sedangkan berdasarkan
pengukuran kekuatan hubungan membuktikan
bahwa hubungan antara fungsi kognitif
dengan
kemampuan interaksi sosial
cukup
lemah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status
mental
sangat
berpengaruh terhadap kemampuan interaksi sosial
lansia. Hal ini dapat diketahui bahwa tingginya
nilai
pada pengkajian status mental lansia dapat menjadi acuan meningkatnya
kemampuan
interaksi sosial lansia
atau sebaliknya.
BAB
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa : fungsi kognitif pada lansia
di wilayah kerja
Puskesmas Libureng
sebagian besar mempunyai fungsi
kognitif dalam
kategori baik,
terdapat hubungan
yang signifikan antara fungsi kognitif dengan
kemampuan
interaksi
sosial
pada lansia di wilayah
kerja Puskesmas Libureng
dari hasil uji hipotesis penelitian yang menyatakan
bahwa
Ho ditolak, sehingga interpretasinya adalah ada
hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada
lansia di
wilayah kerja Puskesmas
Libureng.
B. Saran
1. Bagi kader posyandu
Hasil penelitian
menunjukkan
hampir setengah persen lansia
mempunyai kemampuan interaksi sosial
kurang,
sehingga perlu dilakukan pendekatan-pendekatan
untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial
seperti meningkatkan
komunikasi dengan lansia
dan mengadakan
kegiatan
berkumpul bersama
seperti kegiatan senam lansia
di posyandu lansia.
DAFTAR PUSTAKA
Adik wibowo,
(2014). Metodologi penelitian praktis bidang kesehatan. Jakarta: Rajagrafindo Persida.
Ahmadi, Abu. 2007.
Psikologi
Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Desmita. 2010. Psikologi
Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Gallo, J.J., Reichel, W. &
Andersen, L.M. 2000. Buku Saku Gerontologi (edisi2). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Hesti., Harris,
S., Mayza, A. & Prihartono, J. 2008. Pengaruh Gangguan Kognitif Terhadap
Gangguan Keseimbangan Pada Lanjut Usia. Artikel Penelitian, Neurona, vol 25,
no 3, April 2008, 26-31
Hidayat, A. A. (2009). Metode penelitian
keperawatan
dan teknik analisa data. Jakarta:
Salemba Medika
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: P.T
Rineka Cipta.
Nugroho, Wahjudi. (2014). Keperawatan gerontik dan geriatrik (edisi 3).
Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Nurhati Sitti,
(2012). Metode penelitian praktis (edisi 2). Pekalongan: Usaha Nasional
Padilla.
(2013). Buku ajar keperawatan gerontik. Yogyakarta: Penerbit Nuha Medika Pieter,
H.Z. & Lubis, N.L. 2010. Pengantar Psikologi Dalam Keperawatan. Jakarta:
Kencana.
Potter,
P.A. & Perry,
A.G.
2009. Fundamental Keperawatan (buku 1 edisi 7). Jakarta: Salemba Medika
Pratiknya,
Ahmadi Watik, (2014). Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan
kesehatan. Jakarta: Rajagrafindo persada.
Santjaka. (2009). Bio
statistik. Purwokerto:
Global Internusa Offset
Santosa,
Singgih. 2000. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo.
Santoso,
Slamet. 2010. Teori-Teori
Psikologi
Sosial. Bandung: Refika Aditama
Saryono, (2011). Metodologi penelitian kesehatan: penuntun
praktis bagi pemula. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Setiati, S,
dkk. (2009). Proses menua
dan
implikasi kliniknya. Jakarta:
Internal Publishing
Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Suharnan. 2005.
Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi
Susanto,
Joko. 2009. Hubungan Antara Status Mental
Dengan Kemampuan
Interaksi Sosial Pada
Lansia di Unit Pelaksana Teknis Pelayanan
Sosial Lanjut Usia
Pasuruan di Lamongan. Skripsi. Program Studi
Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Gajah Mada Yogyakarta. Avalaible
from http.// eprints. Ums .ac. id/20430/16/2._ NASKAH_ PUBLIKASI.pdf.
(diunduh tanggal 10 juni 2015).
Stanley, M. & Beare, P.G. 2007. Buku Ajar Keperawatan
Gerontik (edisi 2).
Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Rahmawati, R.
& Puspitawati, I. 2010. Pengatasan Kesepian Pada Warakawuri di Usia Lanjut.
Jurnal Psikologi volume 3, no 2, Juni 2010, 160-171.
Tamher, S.
& Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut
Dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Wirawan Sarwono,Sarlito (2010). Pengantar psikologi umum. Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
Yenni. (2011). Hubungan dukungan
keluarga dan karakteristik lansia
dengan kejadian stroke pada lansia hipertensi diwilayah puskemas perkotaan bukit
tinggi. Depok : fakultas
ilmu keperawatan, Univeritas Indonesia.
Avalaible from http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20282740-T%20Yenni.pdf (diunduh tanggal 17 mei
2015).
Yuniati, F. & Riza, M.
2004. Faktor-faktor yang Berhubungan
Dengan Kesulitan Mengingat dan Konsentrasi Pada Usia Lanjut di Indonesia Tahun
2004. Jurnal Pembangunan Manusia, 9-25.