HUBUNGAN GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF DAN INTERAKSI SOSIAL PADA LANJUT USIA
(LANSIA) WILAYAH KERJA
PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT (PUSKESMAS)
LIBURENG KABUPATEN BONE
A. Latar Belakang
Di seluruh dunia saat ini jumlah
lanjut usia diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa (satu dari 10 orang berusia
lebih dari 60 tahun) dan pada tahun 2025 jumlah lanjut usia diperkirakan akan
mencapai 1,2 milyar. Secara demografis, berdasarkan sensus penduduk pada tahun
2000 jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas sejumlah 17,8 juta jiwa (8%) dari
jumlah penduduk, pada tahun 2005 meningkat menjadi 20 juta jiwa (8,5%) dari
jumlah penduduk dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 24 juta jiwa (9,8%) dari
jumlah penduduk. Jumlah penduduk pada tahun 2020 diperkirakan meningkat menjadi
28,9 juta jiwa (11,4%) dari jumlah penduduk. Hal ini membuktikan bahwa jumlah
lanjut usia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya (Nugroho, 2014 : 2).
Peningkatan populasi lansia ini dapat
menyebabkan permasalahan. Permasalahan yang berkaitan dengan perkembangan
kehidupan lansia salah satunya adalah proses menua, baik secara fisik, mental
maupun psikososial. Semakin lanjut usia seseorang, maka kemampuan fisiknya akan
semakin menurun, sehingga dapat mengakibatkan kemunduran pada peran-peran
sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya gangguan dalam hal mencukupi
kebutuhan hidupnya, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang memerlukan
bantuan orang lain.
Mengantisipasi kondisi ini pengkajian
masalah-masalah usia lanjut perlu ditingkatkan, termasuk aspek keperawatannya
agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan serta untuk menjamin tercapainya usia
lanjut yang bahagia, berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat di
Indonesia (Tamher & Noorkasiani, 2009 : 148).
Salah satu gangguan kesehatan yang
dapat muncul pada lansia adalah gangguan mental. Gangguan mental yang sering
muncul pada masa ini adalah depresi dan gangguan fungsi kognitif. Sejumlah
faktor resiko psikososial juga mengakibatkan lansia pada gangguan fungsi
kognitif. Faktor resiko tersebut adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya
ekonomi, kematian teman atau sanak saudaranya, penurunan kesehatan, peningkatan
isolasi karena hilangnya interaksi sosial dan penurunan fungsi kognitif. Lansia
yang mengalami kesulitan dalam mengingat atau kurangnya pengetahuan penting
dilakukan pengkajian fungsi kognitif dengan tujuan dapat memberikan informasi
tentang fungsi kognitif lansia. Pengkajian fungsi kognitif pada lansia
berfungsi untuk membantu mengidentifikasi lansia yang berisiko mengalami penurunan
fungsi kognitif (Gallo, Reichel & Andersen, 2000 : 109).
Dampak dari menurunnya fungsi kognitif
pada lansia akan menyebabkan bergesernya peran lansia dalam interaksi sosial di
masyarakat maupun dalam keluarga. Hal ini didukung oleh sikap lansia yang cenderung
egois dan enggan mendengarkan pendapat orang lain, sehingga mengakibatkan
lansia merasa terasing secara sosial yang pada akhirnya merasa terisolir dan
merasa tidak berguna karena tidak ada penyaluran emosional melalui
bersosialisasi. Keadaan ini menyebabkan interaksi sosial menurun baik secara
kualitas maupun kuantitas, karena peran lansia digantikan oleh generasi muda,
dimana keadaan ini terjadi sepanjang hidup dan tidak dapat dihindari (Stanley & Beare, 2007 : 20).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti
dengan 5 lansia di posyandu menunjukkan bahwa berdasarkan pengkajian fungsi
kognitif dengan menggunakan Mini Mental Stase
Examination (MMSE),
fungsi kognitif 4 dari 5 lansia dalam kategori buruk dengan skor kurang dari
21. Sedangkan berdasarkan hasil pengamatan peneliti di posyandu menunjukkan
bahwa di posyandu terdapat berbagai tingkah laku lansia yang berbeda-beda.
Hal ini dapat dilihat dengan adanya
lansia yang senang berbicara dan bersendau gurau dengan temannya tetapi ada
juga lansia yang memilih untuk diam dan langsung pulang. Perilaku menarik diri
ini dapat menyebabkan halusinasi karena terjadi persepsi dalam kondisi sadar
tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera yang dapat mempengaruhi
kehidupannya bahkan jika berkelanjutan akan menyebabkan resiko bunuh diri.
Dari uraian singkat di atas, adanya
dugaan bahwa fungsi kognitif berhubungan dengan interaksi sosial pada lansia di
Kecamatan Libureng wilayah kerja Puskesmas Libureng
masih diperlukan penjelasan. Dugaan tersebut membuat peneliti tertarik untuk
meneliti tentang hubungan antara fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi
sosial pada lansia di Kecamatan Libureng wilayah kerja Puskesmas Libureng.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas
maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Adakah hubungan antara fungsi
kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di wilayah kerja
Puskesmas Libureng?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi sosial pada lansia di Kecamatan
Libureng wilayah kerja puskesmas Libureng.
D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini
terdiri dari :
1.
Manfaat praktis
a.
Bagi kader posyandu dapat memberikan informasi
tentang fungsi kognitif dan interaksi sosial sehingga dapat meningkatkan
pelayanan kesehatan pada lansia.
b.
Bagi instansi pendidikan dapat sebagai bahan
tambahan referensi dalam pembelajaran dan sebagai acuan penelitian lanjutan
tentang fungsi kognitif dan interaksi sosial pada lansia.
2.
Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran tentang fungsi kognitif dan kemampuan interaksi sosial pada lansia.
E. Tinjauan pustaka
1.
Lanjut usia
a.
Defenisi Lanjut Usia
Menua atau
lanjut usia di definisikan sebagai proses yang
mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang “frail”
(lemah,rentan) dengan berkurangnya sebagian besar cadangan
sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial. Menua juga didefinisikan sebagai penurunan seiring
waktu yang terjadi pada sebagian besar makhluk hidup, yang berupa kelemahan, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan perubahan
lingkungan, hilangnya
mobilitas dan ketangkasan, serta perubahan fisiologis yang terkait usia. Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh gerontologis
ketika membicarakan proses menua:
1) Aging (bertambahnya umur)
menunjukan efek waktu, suatu proses perubahan,biasanya bertahap dan
spontan.
2) Senescence (menjadi
tua) hilangnya kemampuan
sel untuk membelah dan berkembang (dan seiring waktu akan menyebabkan
kematian
3)
Homeostenosis penyempitan/berkurangnya cadangan homeostatis yang terjadi selama penuaan pada setiap sistem
organ (Setiati dkk,
2009 : 87).
b. Batasan-Batasan Lansia
Usia
yang dijadikan patokan untuk
lanjut usia berbeda-
beda, umumnya berkisar antara
60-65 tahun. Beberapa pendapat
para ahli tentang batasan usia
adalah
sebagai berikut:
1) Menurut Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), ada empat
tahapan yaitu:
a) Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
b) Lanjut usia (elderly)
usia 60-74 tahun
c) Lanjut usia tua (old) usia 75-90
tahun
d) Usia sangat tua (very old) usia > 90
tahun
c.
Perubahan pada lanjut usia
Menua atau menjadi tua adalah suatu
keadaan yang terjadi dalam kedalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan
proses sepanjang hidup, tidak hanya di mulai dari suatu waktu tertentu, tetapi
dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang
berarti seeorang telah melalui tiga tahap kehidupan, yaitu anak, dewasa dan
tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki
usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai
dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran
kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan figur tubuh
yang tidak proporional. (Nugroho, 2014 : 11)
Memasuki usia tua banyak mengalami
kemunduran misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit menjadi keriput
karena berkurangnya bantalan lemak, rambut memutih, pendengaran berkurang, gigi
mulai ompong, aktivitas menjadi lambat, nafsu makan berkurang dan kondisi tubuh
yang lain juga mengalami kemunduran. (Padilla, 2013 : 6)
Perubahan mental, dalam bidang
mental atau psikis pada lanjut usia, dapat berupa sikap yang semakin
egosentrik, mudah curiga, bertambah pelit atau tamak jika memiliki sesuatu.
Yang perlu dimengerti adalah sikap umum yang ditemukan pada hampir setiap
lanjut usia, yaitu keinginan berumur panjang dengan sedapat mungkin tenaganya
dihemat, mengharapkan tetap diberikan peranan dalam masyarakat, ingin tetap
berwibawa dengan mempertahankan hak dan hartanya, ingin meninggal secara
terhormat (Nugroho, 2014 : 34-35).
Perubahan psikososial yaitu nilai
seseorang sering diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya dengan peranan
dalam pekerjaan. Ketika seseorang
mengalami pensiun (purnatugas), maka yang dirasakan adalah pendapatan berkurang
(kehilangan finansial); kehilangan status (dulu mempuyai jabatan/ posisi yang
cukup tinggi, lengkap dengan semua
fasilitas); kehilangan relasi;
kehilangan kegiatan, akibatya timbul kesepian akibat pengasingan dari
lingkungan sosial serta perubahan
cara hidup (Nugroho,
2014 : 35-36).
Perubahan spiritual pada lansia
ditandai dengan agama/kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan, semakin
matur dalam kehidupan keagamaannya, berfikir dan bertindak dengan cara memberi
contoh cara mencintai dan keadilan ( Nugroho, 2014 : 36).
2.
Fungsi kognitif pada lansia
a.
Fungsi kognitif
Menurut Suharnan
(2005 : 23),
psikologi kognitif mempelajari tentang proses-proses mental/aktifitas
pikiran
manusia yang menekankan pada peran-peran persepsi,
pengetahuan,
ingatan dan proses-proses
berpikir bagi perilaku manusia. Hal ini meliputi : bagaimana
seseorang memperoleh
informasi, bagaimana informasi itu kemudian direpresentasikan dan
ditransformasikan sebagai pengetahuan, bagaimana
pengetahuan itu disimpan di dalam
ingatan
kemudian dimunculkan
kembali, bagaimana
pengetahuan
itu
digunakan seseorang untuk mengarahkan sikap-sikap
dan perilaku-perilakunya.
Perkembangan
kognitif pada lansia
meliputi tiga perkembangan yaitu :
1. Perkembangan pemikiran postformal
(kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring
dengan pertambahan usia).
2. Perkembangan
memori (berbagai
kesulitan kognitif misalnya
mengalami
kemunduran dalam
perkembangan kemampuan mental,
termasuk kehilangan
memori, disorientasi dan kebingungan).
3. Perkembangan intelegensi
(dalam
proses penuaan terjadi kemunduran dalam intelegensi
umum).
b.
Pemerikaan status mental Mini Foldstein (MMSE)
Instrumen pengkajian fungsi
kognitif
dengan pemerikaan Status Mental
Mini Foldstein (MMSE) merupakan instrument pengkajian
sederhana yang digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam berfikir
atau menguji aspek-aspek kognitif apakah ada perbaikan atau semakin memburuk.
(Padilla, 2013 : 159)
Mini Mental Status Examination (MMSE)
merupakan suatu skala terstruktur yang terdiri dari 30 poin yang dikelompokkan
menjadi 7 kategori: orientasi terhadap tempat (negara, provinsi, kota, gedung
dan lantai), orientasi terhadap waktu (tahun, musim, bulan, hari dan tanggal),
registrasi (mengulang dengan cepat 3 kata), atensi dan konsentrasi (secara
berurutan mengurangi 7, dimulai dari angka 100, atau mengeja kata WAHYU secara
terbalik), mengingat kembali (mengingat kembali 3 kata yang telah diulang
sebelumnya), bahasa (memberi nama 2 benda, mengulang kalimat, membaca dengan
keras dan memahami suatu kalimat, menulis kalimat dan mengikuti perintah 3
langkah), dan kontruksi visual (menyalin gambar) (Potter, 2006 : 39).
Skor Mini Mental Stase Examination (MMSE)
diberikan berdasarkan jumlah item yang benar sempurna; skor yang makin
rendah mengindikasikan gangguan kognitif yang makin parah. Skor total berkisar
antara 0-30, skor 27-30 menggambarkan kemampuan kognitif sempurna. Skor Mini Mental Stase
Examination (MMSE)
22-26 dicurigai mempunyai kerusakan fungsi kognitif ringan. Selanjutnya untuk
skor Mini Mental Stase
Examination (MMSE)
≤ 21 terdapat kerusakan aspek fungsi kognitif berat dan nilai yang rendah ini
mengidentifikasikan resiko untuk demensia (Potter, 2006 : 41).
c. Penatalaksanaan dan upaya menunda
kepikunan yang dikutip dari Nugroho (2014
: 199) adalah sebagai berikut:
1)
Upaya menunda kepikunan
Upaya menunda kepikunan dapat
dilakukan dengan hidup sehat fisik dan rohani (olah raga teratur dengan makanan
4 sehat 5 sempurna), latihan mempertajam memori (kebugaran mental) seperti:
mengerjakan aktivitas sehari-hari secara rutin, misalnya membersihkan lemari es
setiap senin pagi, membuat daftar tugas tertulis, seperti jenis barang yang
akan dibeli, meneruskan belajar dan
bekerja sesuai dengan kemampuan.
3.
Kemampuan
Interaksi Sosial
Sebagaima diketahui, manusia
adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam
kehidupannya sehari-hari. Oleh karena
itu, tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan
manusia lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia
dengan kelompok, atau hubunga kelompok dengan kelompok inilah yang disebut
interaksi sosial. (Wirawan Sarwono sarlito, 2010 : 185)
Menurut Soekanto (2005 : 59),
syarat-syarat terjadinya interaksi sosial harus memenuhi 2 syarat yaitu :
a.
Adanya kontak sosial.
Kontak sosial dapat berlangsung dalam
3 bentuk antara lain : antara orang perorangan, antara orang perorangan dengan
suatu kelompok manusia atau sebaliknya dan antara suatu kelompok manusia dengan
kelompok manusia lainnya.
b.
Adanya komunikasi.
Seseorang memberikan tafsiran pada
perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau
sikap), perasaan- perasaan apa yang ingin disampaikan oleh
orang tersebut, kemudian orang
yang bersangkutan memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan
oleh orang lain tersebut.
Menurut Ahmadi (2007 : 49),
faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial antara lain :
1)
Faktor imitasi (contoh-mencontoh yang dilakukan
individu dari individu lain dalam kehidupan).
2)
Faktor sugesti (seseorang yang memberikan
pandangan atau sikap dari dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain).
3)
Faktor identifikasi (dorongan untuk menjadi
identik/sama dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah).
4)
Faktor simpati (perasaan tertariknya orang yang
satu terhadap orang yang lain).
Menurut Santoso (2010 : 184-185),
bentuk-bentuk interaksi sosial
terdiri dari 4 macam yaitu :
a.
Kerjasama (cooperation)
Kerjasama adalah usaha yang
dikoordinasikan yang ditujukan kepada tujuan yang dapat dipisahkan.
b.
Persaingan (competition)
Persaingan adalah bentuk interaksi
sosial dimana seseorang mencapai tujuan, sehingga individu lain akan
dipengaruhi untuk mencapai tujuan mereka.
c.
Pertentangan (conflic)
Konflik adalah proses yang berselang
seling dan terus menerus serta mungkin
timbul pada beberapa waktu dari sama sekali, lebih stabil berlangsung dalam
proses interaksi sosial.
d.
Persesuaian (accomodation)
Persesuaian adalah suatu proses
peningkatan saling adaptasi atau penyesuaian. Persesuaian mempunyai tingkatan
yang lebih tinggi daripada penyesuaian,
karena persesuaian mempunyai tujuan yang lebih luas daripada tujuan penyesuaian.
Menurut Santoso (2010 : 189-190),
tahap-tahap interaksi sosial antara lain:
a.
Tahap pertama (ada kontak/hubungan baik langsung
maupun tidak langsung).
b.
Tahap kedua (ada bahan dan waktu untuk
berinteraksi sosial).
c.
Tahap ketiga (timbul problema pada bahan-bahan
interaksi sosial bagi individu-individu yang ada).
d.
Tahap keempat (timbul ketegangan masing-masing
individu dituntut mencari penyelesaian terhadap problem yang ada).
e.
Tahap kelima (ada integrasi yaitu perasaan
tentram dan perasaan siap untuk menjalin proses interaksi sosial berikutnya).
F. Kerangka Teori
|
Lanjut Usia 60 ke
atas
|
|
Perubahan :
1. Fisik
2. Mental
3. Psikososial
4. Spiritual
|
|
Mudah lupa/kemunduran
Fungsi Kognitif
|
|
Lansia Menjadi :
1. Kurang Mandiri
2. gangguan Komunikasi
|
|
Kemampuan interaksi Sosial:
1. Adanya kontak sosial
2. Adanya komunikasi
|
Gambar
2.1
G. Hipotesis
H0 : Tidak
ada hubungan antara
fungsi kognitif dengan kemampuan interaksi
sosial pada lansia
di wilayah kerja
Puskesmas Libureng.
H1 : Ada
hubungan antara
fungsi kognitif dengan
kemampuan interaksi sosial
pada lansia di wilayah kerja Puskesmas
Libureng.
H.
Metode penelitian
1. Tipe
Penelitian
Jenis penelitian kuantitatif
adalah variabel yang dapat di ukur dan dinumerikkan (Adik wibowo, 2014 : 73), yang
menggunakan rancangan diskriptif korelatif yaitu mengacu pada
kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh variasi variabel yang
lain, dengan pendekatan cross sectional yaitu penenlitian
non-eksperimental dalam rangka mempelajari dinamika korelasi antara
faktor-faktor resiko dengan efek yang berupa penyakit atau status kesehatan
tertentu dengan model pendekatan point time. (Pratiknya, Ahmad Watik, 2014 :
168)
2. Kerangka
Konsep
|
Perkembangan Kognitif
|
|
Gangguan interaksi
sosial
|
Ket:
Diteliti
Gambar
2.2
3.
Defenisi oprasional
|
No
|
Variable
|
Defenisi
oprasional
|
Cara
ukur
|
Parameter
|
Jenis
data
|
|
1.
|
Variabel
dependen
Interaksi
sosial
|
Kontak
sosial dapat berlangsung dalam 3 bentuk antara lain : antara orang
perorangan, antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia.
Adanya
komunikasi.
Seseorang
memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan,
gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan- perasaan apa yang ingin
disampaikan oleh orang
tersebut
|
Kusioner
interaksi sosial
|
Bila
pernyataan positif :
Ss
skor 4
S skor 3
Ts
skor 2
Sts
skor 1
Bila
pernyataan negatif :
Ss
skor 1
S skor 2
Ts
skor 3
Sts
skor 4
|
Variabel
dependen
Interaksi
sosial
|
|
2.
|
Variabel
independen:
Fungsi
kognitif
|
1.
Perkembangan
pemikiran postformal
(kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring
dengan pertambahan usia).
2. Perkembangan
memori (berbagai kesulitan
kognitif misalnya mengalami kemunduran dalam perkembangan
kemampuan mental,
termasuk kehilangan
memori, disorientasi
dan kebingungan).
3. Perkembangan intelegensi
(dalam
proses penuaan terjadi kemunduran dalam intelegensi
umum).
|
MMSE
fungsi kognitif
|
Skor
fungi kognitif:
Skor 1 untuk jawaban benar
Skor
0 untk jawaban salah
|
|
4. Populasi dan sampel
Saryono (2011 : 63) berpendapat bahwa
populasi merupakan keseluruhan
sumber data yang
diperlukan dalam suatu penelitian. Penentuan sumber data dalam suatu penelitian sangatlah penting
dan
menentukan keakuratan hasil
penelitian. Populasi penelitian ini adalah keluarga
dengan lansia
di wilayah kerja puskesmas libureng dengan
jumlah sampel 86 orang.
Sampel adalah bagian
dari populasi yang sengaja dipilih oleh peneliti untuk diamati, sehingga sampel
ukurannya lebih kecil dibandingkan populasi dan berfungsi sebagai wakil dari
populasi (Nurhayati sitti, 2012 : 36). Penelitian ini menggunakan “total sampling”. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah semua lansia berusia 60 -74 tahun yang tinggal di
wilayah kerja puskesmas Libureng Kecamatan Libureng Kabupaten Bone yang berjumlah 86 orang.
Sampel penelitian adalah anggota keluarga dengan lansia yang tinggal satu rumah di wilayah
kerja puskesmas libureng Kecamatan Libureng Kabupaten Bone, yang
memenuhi kriteria inklusi, yaitu:
1)
bersedia menjadi
responden
2)
tinggal satu rumah dengan
lansia 60-74 tahun (extended
family) Sedangkan kriteria eksklusinya yaitu:
1) responden
mengalami
gangguan komunikasi.
2) Lansia mengalami sakit.
5. Tehnik penelitian
Penelitian
yang dilakukan melalui
tahapan-tahapan
penelitian
sebagai berikut:
a. Persiapan
materi dan konsep yang mendukung
jalannya penelitian.
b. Studi pendahuluan meminta data yang diperlukan dalam penelitian ke
Dinas Kesehatan
watampone dan puskesmas Libureng.
c. Permohonan izin kepada Kepala Desa dan
RT/RW setempat
d. Meminta data
atau jumlah populasi lansia tahun terakhir.
e. Penyusunan proposal penelitian yang
dilanjutkan
dengan
pengujian proposal penelitian.
f. Mengunjungi responden ke alamat rumah
g. Pelaksanaan
penelitian terhadap lansia yang memenuhi kriteria inklusi.
h. Mengumpulkan data primer dengan memberi kuesioner kepada keluarga dengan
lansia.
i. Data dikumpulkan kemudian
dianalisis secara univariat
dan bivariat.
j. Penyusunan hasil dan pembahasan
kedalam laporan hasil penelitian.
6.
Tehnik pengumpulan data
a. Fungsi Kognitif
Fungsi Kognitif diukur dengan
menggunakan MMSE (Mini Mental Stase Examination) menurut Nugroho (2014 : 182-183)
tes ini terdiri atas empat bagian yaitu tes orientasi (tanggal, hari, waktu),
picture memory test (recall), visuo-spatial tet (clock drawing), verbal
fluency/expressive languege test (naming) dengan skor : nilai 24-30 adalah
normal, nilai 17-23 adalah mengkin
mengalami gangguan kognitif, 0-16 adalah pasti ada gangguan kognitif.
b. Kemampuan Interaksi Sosial
Kemampuan Interaksi
Sosial diukur dengan menggunakan kuesioner yang
dimodifikasi oleh peneliti dari
penelitian yang telah dilakukan oleh Susanto (2009 : 137). Instrumen ini
terdiri dari 6 pernyataan, yaitu :
Data diolah dengan ketentuan:
1) alternatif
jawaban yang diberikan : Sering (S) skor 3
Kadang-kadang
(KK) skor 2
Tidak
pernah(TP) skor 1
Interpretasi
kriteria adalah sebagai berikut:
1) Interaksi
sosial baik jika (x) > (mean) 55,975.
2) Interaksi
sosial kurang jika (x) < (mean) 55,975.
7. Tehnik analisa data
Data akan dianalisis
menggunakan analisis
univariat dan bivariat. Analisis univariat
dilakukan
untuk mendeskriptifkan
karakteristik
masing-masing
variabel yang diteliti (Yenni, 2011
: 140-141). Setelah dilakukan editing, koding, dan tabulasi kemudian
karakteristik responden disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi. Karakteristik responden antara lain usia lansia, usia keluarga,
pendidikan keluarga, pekerjaan keluarga dan
lain-lain.
Selanjutnya pada tahap analisis bivariat
dilakukan
untuk mengetahui hubungan antara dua variabel (dependent dan independent). Jenis uji statistik
yang digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan jenis data.
Menurut
Notoatmodjo (2010 : 176-177) data yang telah terkumpul akan diolah dengan proses pengolahan data
sebagai
berikut:
a. Editing
Editing
adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan memperbaiki isian formulir atau
kuesioner.
b. Coding
Coding adalah
mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
c. Tabulasi/Entry
data
Adalah data,
yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk “kode”
(angka atau huruf) dimasukkan kedalam program atau “software” komputer. Dalam
proses ini juga dituntut ketelitian dari orang yang melakukan “data entry” ini.
Apabila tidak maka akan terjadi bia, mekipun hanya memasukkan data saja.
d.
Pembersihan data
(Cleaning)
Apabila semua data dari setiap sumber data atau reponden
selesai dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan
adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan,dan sebagainya, kemudian
dilakukan pembentukan atau koreksi.
I. Tempat
dan waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
Kecamatan Libureng wilayah kerja Puskesmas Libureng, pada bulan November sampai
dengan Desember 2015, yaitu minggu pertama sampai minggu ke delapan. Populasi
dalam penelitian ini adalah lansia yang mengikuti kegiatan posyandu lansia di Kecamatan
Libureng wilayah kerja Puskesmas Libureng.
Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah simple random sampling (acak sederhana) yaitu populasi yang benar-benar atau
mendekati homogen dan sudah teridentifikasi banyaknya subyek atau unit
analisis. (Pratiknya ahmad watik, 2014 : 60)
J. Instrumen
Pengumpulan Data
Instrumen penelitian menurut
Saryono
(2011 : 98) merupakan
alat atau fasilitas yang
digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data. Instrumen yang
akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala/instrumen
dukungan keluarga dan skala/instrumen kemandirian lansia (barthel indeks).
K.
Perlindungan Subjek Manusia (etik)
Etika adalah prinsip moral yang mempengaruhi tindakan. Dalam berbagai
disiplin ilmu, penelitian yang melibatkan manusia atau hewan, peneliti harus mempertimbangkan
isu etik (Saryono, 2011
: 56). Penelitian ini menjunjung tinggi prinsip
etika
penelitian yang
merupakan standar etika dalam
melakukan penelitian yaitu
:
1. Prinsip Manfaat
Prinsip ini mengharuskan peneliti untuk memperkecil resiko dan
memaksimalkan manfaat. Penelitian terhadap manusia diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kepentingan manusia secara
individu atau masyarakat secara
keseluruhan. Prinsip
ini
meliputi hak untuk
mendapatkan perlindungan dari
penderitaan dan kegelisahan dan
hak untuk mendapat
perlindungan
dari
eksploitasi.
2. Prinsip Menghargai Hak Asasi
Manusia (Respect Human Dignit )
a. Hak untuk ikut atau tidak untuk menjadi informan
(right to self-
determination). Dalam hal ini keluarga
memutuskan sendiri apakah
mereka mau atau tidak menjadi partisipan.
b. Hak untuk mendapatkan
jaminan dari perlakuan yang
diberikan. Peneliti
menjelaskan secara rinci
tentang penelitian
yang akan dilakukan dan bertanggung
jawab ketika melaksanakan penelitian
tersebut.
c. Informed Consent
Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan partisipan
dengan
memberikan lembar persetujuan. Peneliti memberikan informasi
secara lengkap
kepada partisipan tentang tujuan penelitian
yang akan
dilaksanakan
dan partisipan mempunyai
hak
untuk bebas menerima atau menolak
menjadi partisipan.
3. Prinsip Keadilan (Right to Justice)
a. Hak untuk mendapatkan perlakuan
yang adil
(right in fair treatment). Subyek harus diperlakukan secara adil selama keikutsertannya dalam penelitian tanpa
diskriminasi apabila mereka tidak bersedia atau dropped out sebagai informan.
b. Dijaga kahasiaannya (right
to privacy). Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang
diberikan
harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya anominity (tanpa
nama) dan
confidentially (rahasia). Peneliti memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian baik informasi maupun
masalah-masalah
lainnya (Hidayat,
2009 : 73 ).
I. Rencana isi
Untuk lebih memahami kerangka tulisan, maka perlu ditampilkan sistematika
penulisan sebagai berikut :
Bab satu :
Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab dua :
tinjauan pustaka, berisi tentang defenisi lansia,fungsi kognitif dan interaksi
sosial pada lansia di wilayah kerja puskesmas Libureng kabupaten Bone.
Bab tiga :
metode penelitian berisi tentang tipe penelitian, tehnik penelitian,tehnik
pengumpulan data, tehnik analisa data, dan pengelolaan data fungsi kognitif dan
interaksi sosial pada lansia di wilayah kerja pukesmas Libureng kabupaten Bone.
Bab empat :
hasil penelitian dan pembahasan, berisi tentang hubunngan data fungsi kognitif
dan interaksi sosial pada lansia di wilayah kerja pukesmas Libureng kabupaten
Bone.
Bab lima : penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
Adik wibowo,
(2014). Metodologi penelitian praktis bidang kesehatan. Jakarta: Rajagrafindo Persida.
Ahmadi, Abu. 2007.
Psikologi
Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Gallo, J.J., Reichel, W. & Andersen, L.M. 2000. Buku Saku Gerontologi (edisi2). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Hidayat, A. A. (2009). Metode penelitian
keperawatan
dan teknik analisa data. Jakarta:
Salemba Medika
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: P.T
Rineka Cipta.
Nugroho, Wahjudi. (2014). Keperawatan gerontik dan geriatrik (edisi 3).
Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Nurhati
Sitti, (2012). Metode penelitian praktis (edisi 2). Pekalongan: Usaha Nasional
Padilla.
(2013). Buku ajar keperawatan gerontik. Yogyakarta: Penerbit Nuha Medika
Potter, P.A.
& Perry, A.G.
2009. Fundamental Keperawatan (buku 1 edisi 7). Jakarta: Salemba Medika
Pratiknya,
Ahmadi Watik, (2014). Dasar-dasar metodologi penelitian kedokteran dan
kesehatan. Jakarta: Rajagrafindo persada.
Santjaka. (2009). Bio
statistik. Purwokerto:
Global Internusa Offset
Santoso, Slamet. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial. Bandung: Refika
Aditama
Saryono, (2011). Metodologi penelitian kesehatan: penuntun
praktis bagi pemula. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Setiati, S,
dkk. (2009). Proses menua
dan
implikasi kliniknya. Jakarta: Internal Publishing
Soekanto, Soerjono. 2005. Sosiologi Suatu
Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo
Persada.
Suharnan.
2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi
Susanto, Joko. 2009. Hubungan Antara
Status Mental Dengan
Kemampuan Interaksi Sosial Pada
Lansia di Unit Pelaksana Teknis Pelayanan
Sosial Lanjut Usia
Pasuruan di Lamongan. Skripsi. Program Studi
Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Gajah Mada Yogyakarta. Avalaible
from http.// eprints. Ums .ac. id/20430/16/2._ NASKAH_ PUBLIKASI.pdf.
(diunduh tanggal 10 juni 2015).
Stanley,
M. & Beare, P.G. 2007. Buku Ajar Keperawatan
Gerontik (edisi 2).
Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Tamher, S.
& Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut
Dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Wirawan Sarwono,Sarlito (2010). Pengantar psikologi umum.
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Yenni. (2011). Hubungan
dukungan keluarga dan karakteristik lansia dengan kejadian stroke
pada lansia hipertensi diwilayah
puskemas perkotaan bukit tinggi. Depok : fakultas ilmu keperawatan, Univeritas Indonesia. Avalaible from http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20282740-T%20Yenni.pdf (diunduh tanggal 17 mei
2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar